Tak Semua Orang Perlu di Tes Corona-Covid-19, Apa Alasan Pemerintah?

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Tak Semua Orang Perlu di Tes Corona-Covid-19, Apa Alasan Pemerintah?
Novel Coronavirus (nCoV) alias virus corona covid-19 yang sedang mewabah di China. (Shutterstock)

Tes laboratorium pemeriksaan virus Corona Covid-19 hanya dilakukan pada dua kelompok, yakni orang dalam pemantauan dan pasien dalam pengawasan. Kenapa?

Suara.com - Tak Semua Orang Perlu di Tes Corona-Covid-19, Apa Alasan Pemerintah?

Pemerintah memastikan penanganan infeksi virus corona Covid-19 yang masuk ke Indonesia dilaksanakan dengan baik. Meski begitu, masyarakat masih saja merasa panik dan khawatir virus tersebar.

Bahkan tidak sedikit masyarakat yang ingin memeriksakan dirinya ke laboratorium, demi memastikan terjangkit tidaknya mereka oleh Covid-19. Namun hal ini menurut Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, dr Achmad Yurianto, tidak efektif.

Sebab, tes laboratorium untuk pemeriksaan virus Corona Covid-19 diutamakan bagi dua kelompok orang, yakni orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

ODP adalah orang dalam pemantauan, yakni mereka yang pulang dari negara yang sangat mungkin terjadi penularan dari orang ke orang, contohnya Korea Selatan, Jepang, Iran, Italia, China, Singapura, dan sebagainya.

Sedangkan PDP adalah pasien dalam pengawasan, yakni ODP yang mengalami sakit bergejala flu ringan hingga berat. Atau juga orang yang sakit dan diyakini kontak erat dengan mereka positif Covid-19.

"Ini yang pelan-pelan kita switch cara berpikirnya, ya kalau dia bukan ODP. Dia bukan PDP, dia tidak memiliki kontak positif yang kuat, ya untuk apa dilakukan tes, tidak harus dilakukan tes," jelas Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto, Kamis (5/3/2020).

Yuri menjelaskan dasar pemeriksaan laboratorium hanyalah untuk melihat seseorang yang dicurigai bisa menularkan virus kepada orang lain. Bukan untuk pengobatan, karena hingga kini Covid-19 belum ada vaksin ataupun obatnya.

"Kita belum punya obatnya, tujuannya adalah untuk kepentingan kesehatan masyarakat. Apakah dia menjadi spot penularan atau tidak," jelas Yuri.

"Oleh karena itu pelan-pelan kita harus meminta masyarakat memahami ini, dan dites itu tujuannya bukan untuk oh saya sakit dan tidak sakit. Tetapi bagi kita kepentingannya adalah untuk apakah dia menjadi sumber penularan di titik itu," sambungnya.

Sekretaris Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Sesditjen P2P) Kemenkes itu menyebut, pemeriksaan laboratorium juga dilakukan sebagai upaya pemerintah melacak persebaran virus. Karena jika orang itu positif maka akan dicari orang di sekitarnya yang sudah melakukan kontak erat dan berisiko menular.

Litbangkes Publikasikan Proses Pemeriksaan Virus Corona COVID-19. (Dok. Kemenkes RI)
Laboratorium Litbangkes tempat Pemeriksaan Virus Corona COVID-19. (Dok. Kemenkes RI)

"Karena kalau konsekuensiya positif, maka kita harus berpikir untuk melakukan tracking lagi. Dia sudah kontak dengan siapa saja, ini akan bikin kontak baru lagi, karena positif pun obatnya sama saja, karena sampai saat ini belum ada obatnya dan self limiting disease," paparnya.

Self limiting disease itu artinya virus bisa melemah dan dalam tahap terkontrol di dalam tubuh ketika daya tahan tubuh seseorang baik. Sehingga saat sistem imun kuat maka sangat kecil kemungkinan tertular virus, karena tubuhnya bisa melawan dan menjaga.

Nah, untuk menjaga daya tahan tubuh caranya dengan memastikan hidup bersih dan sehat, terhindar dari kuman dan bakteri. Makan buah dan sayur, setelahnya rajin mencuci tangan.

"Tapi kita punya data bahwa 50 persen lebih sudah sembuh. Pada prinsipnya kalau dia tidak sebagai kasus suspect, ya ngapain harus periksa itu. Toh, diperiksa asal daya tahan tubuh bagus semua bagus, sudah sembuh," tandasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS