Array

Cemas akibat Pandemi Corona Pengaruhi Banyak Aspek, Terutama Kesehatan Jiwa

Rabu, 01 April 2020 | 12:35 WIB
Cemas akibat Pandemi Corona Pengaruhi Banyak Aspek, Terutama Kesehatan Jiwa
Ilustrasi cemas di tengah pandemi corona (Shutterstock)

Suara.com - Pandemi global ketiga yang disebabkan oleh virus corona baru membuat sebagian besar orang di seluruh dunia cemas.

Kecemasan ini membuat masyarakat melakukan panic buying, yakni membeli benda yang menurut mereka dalam melindungi diri dari virus serta mengambil berbagai tindakan yang dirasa dapat mencegah infeksi Covid-19.

Menurut dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di Klinik Psikosomatik Rumah Sakit OMNI Alam Sutera, dr. Andri, SpKJ, pandemi seperti ini memang dapat memengaruhi individu dan masyarakat di berbagai tingkatan serta dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan jiwa.

"Individu yang telah mengalami gangguan jiwa seperti gangguan cemas dan gangguan depresi kemungkinan sangat rentan terhadap efek dari kepanikan dan ancaman yang meluas terkait virus corona baru ini," tulisnya dalam sebuah artikel yang dimuat di laman Psikosomatik, terbit pada Senin (2/3/2020).

Ia menambahkan, penyakit kronis atau menahun, termasuk penyakit menular kronis seperti tuberculosis (TBC) dan human immunodeficiency virus (HIV) dikaitkan dengan kemungkinan mengalami tingkat gangguan mental lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum.

Penelitian menunjukkan tingkat depresi umumnya akan meningkat setelah kondisi medis fisik berlangsung dalam waktu lama.

Ilustrasi cemas di depan laptop
Ilustrasi cemas membaca kabar virus corona (Shutterstock)

"Efek dari virus corona pada kesehatan mental belum diteliti secara sistematis, namun diperkirakan bahwa Covid-19 akan memiliki efek pada kesehatan jiwa yang besar terutama berdasarkan reaksi publik saat ini," tambahnya.

Stres dan kecemasan ini pun dapat membuat masyarakat mengalami gajala psikosomatik, seperti tiba-tiba tenggorokan gatal, nyeri, hingga tubuh tidak enak.

"Biasanya orang akan mengalami gejala psikosomatik ketika badannya telah mengalami kelebihan beban. Jadi kalau sudah stres berlebihan akan mengalami gejala psikosomatik seperti jantung berdebar, napas pendek, keluar keringat dingin," lanjutnya.

Baca Juga: Cemas Wabah Covid-19 Bikin Susah Tidur? Ini Enam Cara Untuk Mengatasinya!

Gejala ini berkaitan dengan penurunan tahan tubuh. Semakin baik daya tahan tubuh seseorang terhadap stres, maka akan jauh lebih baik, kata Andri.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh spesialis dari Pennsylvania State University pun menunjukkan suasana hati yang negatif dapat mengubah cara fungsi respon imun dan berkaitan dengan peningkatan risiko peradangan.

Dikutip dari Medical News Today, peneliti memperhatikan, orang yang mengalami suasana hati negatif dalam beberapa kali per hari untuk waktu lama cenderung memiliki tingkat peradangan biomarker yang lebih tinggi dalam darah mereka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI