Polusi Udara, Biang Kerok Tingginya Angka Kematian Virus Corona

M. Reza Sulaiman

Senin, 27 April 2020 | 16:56 WIB
Polusi Udara, Biang Kerok Tingginya Angka Kematian Virus Corona
Ilustrasi polusi udara memperparah kondisi pasien virus Corona Covid-19. [shutterstock]

Suara.com - Polusi Udara, Biang Kerok Tingginya Angka Kematian Virus Corona

Dampak polusi udara ditengarai menjadi alasan tingginya angka kematian virus Corona Covid-19 di sejumlah negara. Meski kekinian kualitas udara meningkat, dampak yang ditinggalkan oleh paparan sebelumnya tidak serta merta hilang.

Dilansir Anadolu Agency, Kepala Analis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) Lauri Myllvirta mengatakan polusi udara mengakibatkan orang-orang yang terpapar Covid-19 dan telah memiliki latar belakang penyakit seperti diabetes, penyakit paru-paru, asma, penyakit jantung, dan kanker, akan lebih rentan bahkan cenderung mematikan.

Masalah kesehatan ini secara substansial meningkatkan risiko rawat inap dan kematian untuk pasien Covid-19.

"Artinya, sebanyak jutaan orang sudah menderita penyakit kronis dan cacat atau menjalani perawatan seperti kemoterapi karena paparan polusi udara di masa lalu, akan semakin rentan terhadap Covid-19," ujar Lauri dalam keterangan resmi, Senin (27/4/2020).

Menurutnya, besar kemungkinan juga risiko tersebut dipengaruhi oleh infeksi sistem kekebalan tubuh seseorang yang menurun akibat paparan polusi udara. Penyebab lainnya adalah masalah pernapasan yang kemudian diperburuk oleh polusi udara.

Untuk kedua kasus ini para peneliti memang sudah menemukan bukti, namun belum secara khusus untuk Covid-19. Dia mengatakan Covid-19 adalah penyakit baru dan masih banyak yang tidak pasti atau tidak diketahui.

Hanysa saja tingkat polusi udara yang tinggi memengaruhi pertahanan alami tubuh terhadap virus yang ditularkan melalui udara, dan membuat orang lebih mungkin tertular penyakit virus, yang juga berlaku untuk SARS-CoV-2.

"Dengan begitu, berarti kemungkinan paparan polusi udara berkontribusi terhadap penyebaran penyakit ini," imbuh Lauri lagi.

baca juga

Lauri menambahkan paparan polusi udara adalah faktor risiko utama bagi banyak penyakit kronis yang membuat orang mengalami sakit parah, memerlukan perawatan intensif, ventilator, hingga meninggal akibat Covid-19.

"Berbagai penelitian ilmiah yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar dari penyakit seperti pernapasan kronis, penyakit jantung, asma, dan diabetes di seluruh dunia disebabkan oleh polusi udara," urainya.

Polusi udara di Ibukota Jakarta (Suara.com/ Peter Rotti)
Polusi udara berpengaruh terhadap infeksi virus Corona Covid-19. (Suara.com/ Peter Rotti)

Oleh karena itu, Lauri menambahkan bahwa paparan polusi udara di masa lalu berkontribusi pada jumlah kematian saat ini dan memicu tekanan yang besar pada sistem kesehatan untuk menghadapi penyakit saat ini.

Ia mengatakan untuk beberapa masalah infeksi pernapasan, paparan polusi udara pada orang yang terinfeksi dapat memperburuk gejala mereka dan meningkatkan risiko rawat inap hingga kematian, dan mungkin juga berlaku untuk pasien Covid-19, meski belum dikonfirmasi dengan penelitian khusus.

Menurut dia, tingkat polusi udara saat ini berkontribusi terhadap penyakit, kebutuhan akan layanan dan perawatan kesehatan dari penyakit-penyakit lain, hingga menambah tekanan pada sistem perawatan kesehatan. Lauri menambahkan polusi udara merupakan faktor risiko utama kematian akibat Infeksi Saluran Pernafasan Bawah.

"Ini berarti bahwa tingkat polusi udara saat ini [yang tetap berbahaya di sebagian besar dunia dan meskipun terjadi penurunan yang disebabkan oleh langkah-langkah untuk mengendalikan virus] tetap berkontribusi pada jumlah kasus parah dan kematian akibat Covid-19," tutup Lauri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tradisi Kajian Kitab Kuning Pesantren Salafi Banten saat Wabah Corona

Tradisi Kajian Kitab Kuning Pesantren Salafi Banten saat Wabah Corona

Banten | Senin, 27 April 2020 | 16:05 WIB

China Klaim Obat Tradisional Bantu Kesembuhan 95 Persen Pasien Hubei

China Klaim Obat Tradisional Bantu Kesembuhan 95 Persen Pasien Hubei

News | Senin, 27 April 2020 | 15:55 WIB

Dua Bocah Cileungsi Positif Corona, Penularan Diduga Berasal dari Baju Ayah

Dua Bocah Cileungsi Positif Corona, Penularan Diduga Berasal dari Baju Ayah

Health | Senin, 27 April 2020 | 16:04 WIB

Terkini

Memprihatinkan! Hampir Semua Pesantren di Indonesia Belum Penuhi Standar Air Minum dan Sanitasi

Memprihatinkan! Hampir Semua Pesantren di Indonesia Belum Penuhi Standar Air Minum dan Sanitasi

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:46 WIB

Perbanyak Gerai AZKO, ACES Raup Cuan Rp390,3 Miliar di Semester I

Perbanyak Gerai AZKO, ACES Raup Cuan Rp390,3 Miliar di Semester I

Bisnis | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:46 WIB

Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja

Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja

Jogja | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:45 WIB

Curhat ke IMF dan World Bank, Purbaya: Saya Menteri Paling Apes di Dunia

Curhat ke IMF dan World Bank, Purbaya: Saya Menteri Paling Apes di Dunia

Bisnis | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:44 WIB

Krim Malam Bagusnya Dipakai Jam Berapa? Ini Panduan Memilih Produk Sesuai Jenis Kulit

Krim Malam Bagusnya Dipakai Jam Berapa? Ini Panduan Memilih Produk Sesuai Jenis Kulit

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:43 WIB

Bedak Marcks Warna Pink Cocok untuk Kulit Apa? Kenali Fungsinya sebelum Membeli

Bedak Marcks Warna Pink Cocok untuk Kulit Apa? Kenali Fungsinya sebelum Membeli

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:41 WIB

Industri Fesyen Sumbang PDB RI Rp 120,13 Triliun di Triwulan I 2026

Industri Fesyen Sumbang PDB RI Rp 120,13 Triliun di Triwulan I 2026

Bisnis | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:39 WIB

Motor Bekas Terbaik dengan Harga Terjangkau di Bawah 5 Juta, Nggak Perlu Nyicil Baru

Motor Bekas Terbaik dengan Harga Terjangkau di Bawah 5 Juta, Nggak Perlu Nyicil Baru

Otomotif | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:36 WIB

Beyond the Law Malam Ini: Duel Maut Mantan Detektif vs Gembong Mafia

Beyond the Law Malam Ini: Duel Maut Mantan Detektif vs Gembong Mafia

Entertainment | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:36 WIB

Gerindra Kaji Komprehensif Putusan MK Soal Anggaran MBG Dipisah dari Pos Pendidikan

Gerindra Kaji Komprehensif Putusan MK Soal Anggaran MBG Dipisah dari Pos Pendidikan

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:34 WIB

×