Bolehkah Pasien Penyakit Kronis Kembali Kontrol ke RS di Tengah Pandemi?

Bimo Aria Fundrika | Dini Afrianti Efendi
Bolehkah Pasien Penyakit Kronis Kembali Kontrol ke RS di Tengah Pandemi?
Ilusrasi Bolehkah Pasien Penyakit Kronis Kembali Kontrol ke RS di Tengah Pandemi? (Shutterstock)

Selama lebih dari dua bulan sudah pasien penyakit lain diminta untuk meminimalisir kunjungan ke RS agar terhindar dari virus corona.

Suara.com - Bolehkah Pasien Penyakit Kronis Kembali Kontrol ke RS di Tengah Pandemi Covid-19?

Pandemi virus corona memang tidak hanya membuat orang terinfeksi Covid-19. Tapi juga membuat pasien penyakit lainnya mestir menunda pengobatannya.

Selama lebih dari dua bulan sudah pasien penyakit lain diminta untuk meminimalisir kunjungan ke RS agar terhindar dari virus corona.

Mereka disarankan berkonsultasi melalui telemedicine. Setelah dua bulan lebih, bolehkah kini pasien, terutama dengan penyakit kronis untuk pergi ke RS?

Ilustrasi Bolehkah Pasien Penyakit Kronis Kembali Kontrol ke RS di Tengah Pandemi?. (Shutterstock)

Ketua Umum PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr. dr. Sally Aman Nasution, SKM, MDM menyarankan pasien untuk bisa kembali berobat bertemu dokter.

"Ini kan udah 2 bulan nih, mereka mungkin ada keluhan, ada obatnya habis dan lain sebagainya.

Tantangannya apakah satu fasilitas kesehatan yang didedikasikan hanya untuk kasus Covid-19 saja atau yang non Covid-19," ungkap Dr. Sally.

Ia mengatakan, akan menjadi masalah ketika rumah sakit menerima kedua jenis pasien Covid-19 dan non Covid-19.

Oleh karenanya perlunya ada pengaturan ketat di antara dua jenis pasien ini.

"Cuma mungkin harus dilakukan, diatur karena kita harus antisipasi pada saat orang-orang memang yang selama ini enggakkontrol dan 2 bulan enggak ketemu dokternya, rame-rame datang karena memang butuh ya untuk mengontrol," katanya.

Mereka yang berpenyakit kronis dan rentan seperti kanker, jantung, diabetes melitus, hingga gagal ginjal dan sebagainya, kata Dr. Sally perlu melakukan kontrol ke rumah sakit.

Karena jika terus dibiarkan penyakit tidak hanya korban Covid-19 saja, tapi angka penyakit non Covid-19 juga malah semakin tinggi.

"Karena di era saat ini termasuk populasi yang rentan 'jangan sampai' nanti Covid-19 nya ada, non Covid-19 nya juga muncul. Ini double burden, ini yang yang bahaya. Nih, kasusnya bisa-bisa membludak di mana-mana," tutupnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS