- Danone SN Indonesia mengadakan forum dialog membahas solusi kesehatan anak melalui inovasi ilmiah dan kolaborasi lintas sektor.
- Fokus utama isu kesehatan anak meliputi stunting dan anemia, dengan penekanan intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
- Riset ilmiah menjadi fondasi penting untuk mengembangkan inovasi nutrisi terfortifikasi dan edukasi gizi berbasis bukti di Indonesia.
Suara.com - Indonesia masih bergulat dengan persoalan kesehatan anak yang dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga menentukan kualitas generasi di masa depan. Tantangan seperti stunting, anemia, dan gangguan kesehatan saluran cerna masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama pada periode krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menjadi fondasi tumbuh kembang anak secara fisik dan kognitif.
Masalah gizi pada masa awal kehidupan tidak berdiri sendiri. Kekurangan zat besi yang memicu anemia, gangguan kesehatan pencernaan, hingga pola asuh dan akses layanan kesehatan yang belum merata saling berkaitan dan berpotensi menghambat perkembangan anak secara optimal. Karena itu, upaya pencegahan membutuhkan pendekatan yang komprehensif, berbasis sains, serta melibatkan kolaborasi lintas sektor.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia menggelar forum dialog bertajuk “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi”. Forum ini mempertemukan tenaga kesehatan, akademisi, asosiasi profesi, serta mitra strategis untuk membahas solusi kesehatan anak yang relevan dengan kondisi Indonesia.
CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia, Joris Bernard, menegaskan bahwa kesehatan anak menjadi bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan. “Melalui Danone Impact Journey, kami mengintegrasikan kesehatan, tanggung jawab lingkungan, dan kemajuan sosial dalam setiap lini bisnis. Pendekatan ini didukung oleh riset ilmiah dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar solusi yang dihadirkan benar-benar memberikan dampak nyata bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Isu anemia menjadi salah satu sorotan utama. Defisiensi zat besi masih banyak ditemukan pada ibu dan anak, dan berisiko menghambat tumbuh kembang serta kemampuan belajar anak. Presiden Indonesian Nutrition Association (INA), Dr. dr. Luciana Sutanto, MS. SpGK(K), menekankan pentingnya intervensi nutrisi berbasis bukti ilmiah.
Ia menyebutkan bahwa hasil kolaborasi riset INA dan Danone SN Indonesia menunjukkan susu pertumbuhan terfortifikasi, sebagai bagian dari pola makan seimbang, dapat membantu meningkatkan kecukupan zat besi pada anak usia 1–3 tahun.
Selain anemia, kesehatan saluran cerna juga berperan besar dalam penyerapan nutrisi dan pertumbuhan anak. Dokter Spesialis Gizi Klinik FKUI, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), menjelaskan bahwa keragaman diet dan asupan serat penting untuk mendukung mikrobiota usus.
“Nutrisi yang seimbang tidak hanya mencegah gangguan pencernaan, tetapi juga berkontribusi pada pencegahan stunting serta perkembangan kognitif anak,” ujarnya dalam diskusi kesehatan, Kamis (8/1/2026).
Dari sisi layanan kesehatan di lapangan, peran bidan menjadi kunci. Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Dr. Ade Jubaedah, menyoroti pentingnya edukasi gizi sejak masa kehamilan hingga anak usia dini. Menurutnya, penguatan kapasitas bidan melalui program kolaboratif dapat menciptakan dampak kesehatan yang berkelanjutan di tingkat komunitas.
Baca Juga: BGN Optimistis Target 82,9 Juta Penerima MBG Tercapai 2026, Guru dan Santri Masuk Tambahan
Upaya pencegahan stunting juga membutuhkan keterlibatan keluarga dan komunitas. Direktur Eksekutif YPCII, dr. Agustini E. Raintung, mengingatkan bahwa stunting tidak hanya memengaruhi tinggi badan anak, tetapi juga perkembangan otak dan produktivitas ekonomi di masa depan. Karena itu, intervensi pada 1.000 HPK harus dilakukan secara terpadu melalui edukasi gizi, perbaikan sanitasi, dan akses layanan kesehatan.
Riset menjadi fondasi dari seluruh upaya tersebut. Medical and Scientific Affairs Director Danone SN Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan bahwa sepanjang 2025 pihaknya menghasilkan lebih dari 46 publikasi ilmiah terkait isu kesehatan anak, mulai dari malnutrisi, anemia, stunting, hingga kesehatan saluran cerna. Temuan ini menjadi dasar pengembangan inovasi nutrisi dan alat bantu digital untuk deteksi dini risiko gizi.
Melalui pendekatan berbasis sains dan kolaborasi lintas sektor, berbagai inisiatif kesehatan anak terus diperkuat, termasuk edukasi gizi keluarga dan inovasi nutrisi terfortifikasi. Upaya ini diharapkan dapat membantu anak Indonesia tumbuh lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.