Pandemi Covid-19 dan Kaitannya dengan Jumlah Pasien Hepatitis

Selasa, 28 Juli 2020 | 16:40 WIB
Pandemi Covid-19 dan Kaitannya dengan Jumlah Pasien Hepatitis
Ilustrasi Hepatitis A, B dan C (Shutterstock)

Suara.com - Hepatitis termasuk penyakit mematikan yang menjadi epidemi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan disebutkan, pada 2013, prevalensi hepatitis B di Indonesia ada 7,1 persen atau sekitar 18 juta penduduk, dengan 9 juta di antaranya berkembang dalam kondisi kronis. Kemudian, 900 ribu di antaranya berlanjut jadi sirosis (pengerasan hati) dan kanker hati.

Sedangkan jumlah pasien hepatitis C di Indonesia sebanyak 1,01 persen atau sekitar 2,5 juta orang.

Kondisi pandemi Covid-19 dinilai tidak akan membuat prevalensi pasien hepatitis di Indonesia jadi meningkat. Walau begitu, Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD - KGEH.FINASIM mengatakan, penyebabnya berbeda-beda antara hepatitis A, B, juga C.

"Kita harus lihat satu per satu penyakitnya. Untuk hepatitis A, kebanyakan kasusnya penularan dari makanan. Makan bersama di restoran, warung, dan lain-lain. Dengan WFH, saya memperkirakan orang makan di rumah jadi lebih bersih," kata Irsan dalam webinar Kemenkes Peringatan Hari Hepatitis Dunia, Selasa (28/7/2020).

Menurut Irsan, kebijakan karantina mandiri di dalam rumah justru berdampak baik untuk penurunan kasus hepatitis A. Demikian juga dengan hepatitis B dan C.

Ia menjelaskan, penularan virus hepatitis B juga C disebut secara vertikal dan horisontal. Penularan secara horisontal bisa melalui transfusi darah, penggunaan narkotika suntik secara bersamaan, dokter dan suster yang tertusuk jarum, atau suami istri lewat hubungan seksual.

"Lalu vertikal dari ibu ke anak. Untuk hepatitis B yang dominan penularan vertikal, sekitar 80 persen. Cara menghambat transmisi vertikal ini dengan memberikan vaksinasi kepada bayi," katanya.

Diakui Irsan, akibat wabah virus corona, sejumlah orangtua mungkin khawatir membawa anaknya ke fasilitas layanan kesehatan untuk mendapatkan vaksin. Namun menurutnya, dampak itu tidak terlalu besar bagi ibu hamil.

"Kalau dia melahirkan di rumah sakit atau bidan dan tenaga medis disiplin memberikan vaksin pada 24 jam pertama (pascakelahiran), harusnya hepatitis B bisa dicegah," ucap Irsan.

Baca Juga: WHO: Vaksinasi Berhasil Turunkan Kasus Hepatitis B pada Anak

Sementara itu, hepatitis C memang belum memiliki vaksin dan penularan terjadi secara horisontal. Ia menyampaikan, biasanya pasien hepatitis C paling banyak tertular akibat penggunaan jarum suntik narkotika yang dipakai bersamaan.

"Saya tidak tahu apakah pandemi membuat pemakaian narkoba jadi berkurang. Apakah pemakaian jarum suntik jadi sendiri-sendiri. Kalau begitu, jadi turun harusnya kasusnya. Jadi faktornya itu beda-beda, tergantung virusnya," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI