alexametrics

Psikolog: Anak TK Tidak Perlu Ikut Pembelajaran Jarak Jauh

Vania Rossa
Psikolog: Anak TK Tidak Perlu Ikut Pembelajaran Jarak Jauh
Ilustrasi pembelajaran jarak jauh. (Shutterstok)

Proses pembelajaran jarak jauh yang kurang tepat justru bisa membuat anak jadi stres.

Suara.com - Di tengah pandemi Covid-19, kegiatan belajar yang harusnya dilakukan di sekolah, untuk sementara waktu dipindahkan ke rumah. Metode belajar jarak jauh pun kini menjadi metode belajar yang diadopsi hampir semua siswa sekolah di berbagai belahan dunia. Namun, menurut psikolog anak Seto Mulyadi atau yang akrap dipanggil Kak Seto, anak usia dini atau yang masih belajar pada tingkat taman kanak-kanak (TK) tidak perlu dilibatkan dalam pembelajaran jarak jauh.

Menurut Kak Seto, proses pembelajaran jarak jauh yang kurang tepat justru bisa membuat mereka stres.

Untuk itu, Kak Seto pun berpendapat bahwa istilah "belajar dari rumah" sebaiknya diganti menjadi "belajar di rumah" bersama keluarga. Hal ini sebisa mungkin diterapkan pada anak-anak usia dini atau anak-anak TK.

"Saya menganjurkan jangan belajar jarak jauh, kenapa enggak belajar jarak dekat bersama dengan orangtua di rumah. Ada anak TK dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang menatap ke layar, akhirnya pusing tujuh keliling, akhirnya stres dan marah-marah, akhirnya malah benci belajar," kata Kak Seto dalam bincang-bincang virtual, Jumat (9/10/2020), dikutip dari Antara.

Baca Juga: Corona Malaysia Naik Lagi, Siswa RI di Kuala Lumpur Balik Belajar di Rumah

"Bukan belajar dari rumah, tapi belajar di rumah. Jadi materi pelajaran dari guru disampaikan ke orangtua, dan orangtua yang menyampaikan kepada anak-anak dengan gaya masing-masing, yang penting kompetensinya," ujar Kak Seto melanjutkan.

Ada lima inti penting dari kurikulum yaitu etika, estetika, ilmu pengetahuan, teknologi, nasionalisme, dan kesehatan. Kelima hal tersebut harus disampaikan dengan ramah, kreatif, dan penuh dengan rasa persahabatan kepada anak sehingga bisa mencapai hasil yang optimal.

"Anak usia dini diajak, 'Ayo belajar', nanti dia akan melawan. Tapi coba ganti dengan 'Ayo kita bermain'. Jadi bermain gembira karena dunia anak adalah bermain. Melalui bermain ya belajar, belajar etika soal sopan-santun, menghormati orang lain, bekerja sama," ujar Kak Seto.

Pada poin ilmu pengetahuan dan teknologi diberikan kepada anak secara bertahap sesuai dengan perkembangan usianya. Orangtua diharapkan tidak memaksakan anak untuk menguasai semua kurikulum pendidikan terlebih pada anak TK.

"Yang paling utama adalah suasananya gembira, dunia anak adalah bermain dan gembira. Kalau semuanya atas nama kurikulum, semua serba harus bisa, nanti tidak sesuai dengan kejiwaannya," kata Kak Seto.

Baca Juga: Saran Psikolog Untuk Atasi Anak Susah Belajar di Rumah

Komentar