Jangan Abaikan Perubahan Warna Lidah, Bisa Jadi Itu Tanda Serangan Jantung!

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 09:00 WIB
Jangan Abaikan Perubahan Warna Lidah, Bisa Jadi Itu Tanda Serangan Jantung!
Ilustrasi lidah kecil. (Shutterstock)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Serangan jantung termasuk kondisi mematikan yang terjadi ketika arteri yang memasok darah ke jantung tersumbat. Kondisi ini disebabkan oleh adanya gumpalan darah.

Penyebab paling umum dari pembekuan darah adalah penyakit jantung koroner, suatu proses di mana arteri koroner tersumbat oleh timbunan kolesterol.

Dalam hal ini, lidah salah satu area tubuh yang bisa mendeteksi adanya masalah kesehatan. Anda perlu mewaspadai perubahan warna pada lidah.

Lidah yang berwarna merah dengan lapisan kuning bisa menandakan seseorang berisiko besar terkena penyakit jantung.

Para peneliti memeringatkan bahwa mikroorganisme yang bersembunyi di lidah bisa membantu mendiagnosis gagal jantung. Penelitian ini dilakukan oleh Dr Tianhui Yuan dari Rumah Sakit Pengobatan China Universitas Guangzhou.

Ilustrasi dada berdebar, serangan jantung. (Shutterstock)
Ilustrasi dada berdebar, serangan jantung. (Shutterstock)

Dr Yuan mengatakan bahwa pasien gagal jantung kronis memiliki tampilan lidah yang berbeda dengan orang tanpa penyakit tersebut.

"Lidah yang normal berwarna merah pucat dengan lapisan putih pucat. Pasien gagal jantung memiliki lidah merah dengan lapisan kuning dan akan berubah seiring dengan perkembangan penyakit," jelas Dr Yuan dikutip dari Express, Jumat (16/10/2020).

Studi mereka juga menemukan komposisi jumlah bakteri pada lapisan lidah juga berbeda antara pasien gagal jantung dan orang sehat.

Dalam sebuah penelitian dalam BMJ, telah menyelidiki gagal jantung, lidah tebal dan tomogram kranial yang abnormal.

Baca Juga: Shandy Aulia Ditegur Warganet karena Beri Bayinya Durian, Adakah Bahayanya?

Hipokalsemia kronis dapat menjelaskan gejala dan tanda lidah yang tebal. Selain itu, hasil CT-Scan kranial pada klasifikasi ganglia basal bilateral juga bisa menjelaskan kondisi ini.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI