alexametrics

Studi: Pasien Pria Tua Covid-19 yang Dirawat di RS Bangun Antibodi Terbaik

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Studi: Pasien Pria Tua Covid-19 yang Dirawat di RS Bangun Antibodi Terbaik
Ilustrasi pasien menggunakan alat bantu pernapasan. (Shutterstock)

Sebuah studi menunjukkan bahwa pasien Covid-19 pria dengan usia tua dan dirawat di RS bisa memiliki antibodi lebih banyak.

Suara.com - Pasien pulih Covid-19 laki-laki yang dirawat di rumah sakit dengan usia tua disebut memiliki plasma antibodi yang terbaik dari jenis pasien lainnya. Hal ini dinyatakan dalam studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation.

Melansir dari Medical News Today, studi baru ini menemukan bahwa jumlah plasma antibodi anti-SARS-CoV-2 lebih tinggi pada pasien pria yang lebih tua dan membutuhkan rawat inap. Plasma ini yang merupakan komponen darah di mana dapat membantu mengobati Covid-19 pada pasien yang belum sembuh.

Pada studi ini para peneliti melakukan penelitian untuk menentukan bagaimaan usia, jenis kelamin, dan tingkat keparahan penyakit terhadap ukuran dan kualitas respons antibodi seseorang terhadap SARS-CoV-2.

Penelitian tersebut melibatkan 126 orang dewasa yang telah pulih dari infeksi Covid-19. Para peneliti mengambil darah dari para peserta dan membandingkannya dengan informasi mengenai usia, jenis kelamin, dan keparahan.

Baca Juga: Tim Gugus Tugas COVID-19 Tracing Kontak Erat Ketua KPU Balikpapan

Para ilmuwan menganalisis kemampuan plasma untuk menetralkan sel SARS-CoV-2 dalam kultur sel. Mereka juga menggunakan tes yang tersedia secara komersial untuk menentukan tingkat antibodi.

Mereka menemukan bahwa respons antibodi yang kuat dikaitkan dengan rawat inap akibat keparahan Covid-19, jenis kelamin pria, dan usia yang lebih tua. 

Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)
Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)

"Kami mengusulkan bahwa jenis kelamin, usia, dan tingkat keparahan penyakit harus digunakan untuk memandu pemilihan donor untuk studi transfer plasma pemulihan," kata Profesor Sabra Klein, penulis utama penelitian dari Departemen Mikrobiologi dan Imunologi Molekuler Sekolah Johns Hopkins Bloomberg.

Para peneliti juga mencatat bahwa temuan mereka masih membutuhkan studi lebih lanjut.

Baca Juga: Warga Kawasan Kumuh Kelaparan saat Pandemi, Makan Tikus hingga Ular

Komentar