alexametrics

Studi: Pandemi Tingkatkan Masalah Mental pada Ibu Hamil dan Pascapartum

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Studi: Pandemi Tingkatkan Masalah Mental pada Ibu Hamil dan Pascapartum
Ibu hamil (Unsplash)

Sebuah studi menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 membuat ibu hamil dan pasca melahirkan mengalami lebih banyak masalah mental.

Suara.com - Depresi, kecemasan, dan gangguan pasca trauma (PTSD) dapat terjadi selama pengalaman kehamilan dan pascapartum. Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 nyatanya meningkatkan berbagai masalah mental pada ibu hamil dan pascapartum atau pascamelahirkan.

Melansir dari Medical Xpress, dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Psychiatry Review, para peneliti dari Brigham and Women's Hospital menyurvei perempuan hamil dan yang baru saja melahirkan. Peneliti menemukan tingkat depresi, kecemasan, dan gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) diperburuk oleh kesedihan dan kekhawatiran kesehatan terkait Covid-19.

"Kami tahu periode perinatal sudah merupakan masa di mana wanita sangat rentan terhadap masalah kesehatan mental," kata penulis penelitian, Cindy Liu, Ph.D., dari Departemen Pediatric Newborn Medicine dan Department of Psychiatry.

"Kami ingin melihat faktor apa yang terkait dengan pandemi di mana mungkin terkait dengan gejala kesehatan mental," imbuhnya.

Baca Juga: Jalani Isolasi Mandiri, Anies Baswedan: Ini Baru Pertama Kali IG Sendiri

Di antara 1.123 wanita yang disurvei antara 21 Mei hingga 17 Agustus 2020, para peneliti menemukan bahwa lebih dari 1 dari 3 atau sekitar 36,4 persen melaporkan tingkat depresi yang signifikan secara klinis. Sebelum pandemi, tingkat depresi perinatal umumnya hanya 15 hingga 20 persen.

Lebih lanjut, 1 dari 5 atau 22,7 persen melaporkan tingkat kecemasan umum yang signifikan secara klinis, dan 1 dari 10 atau sekitar 10,3 persen melaporkan gejala  PTSD.

Ilustrasi ibu hamil (Unsplash)
Ilustrasi ibu hamil (Unsplash)

Secara khusus, para peneliti menemukan bahwa sekitar 9 persen partisipan melaporkan merasakan kesedihan, kehilangan, atau kekecewaan yang kuat akibat pandemi. Kelompok ini kira-kira lima kali lebih mungkin mengalami  gejala kesehatan mental yang signifikan secara klinis.

Sementara sekitar 18 persen melaporkan sangat khawatir tentang risiko kesehatan terkait Covid-19. Kelompok ini memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk mengalami gejala kejiwaan yang signifikan secara klinis.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Dinkes Sleman Tetap Maksimalkan Posyandu untuk Balita

Komentar