alexametrics

Dibanding Fisik, Dampak Emosional setelah Keguguran Lebih Rumit

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Dibanding Fisik, Dampak Emosional setelah Keguguran Lebih Rumit
ilustrasi keguguran [shutterstock]

Rasa sakit psikologis diperumit oleh kecenderungan wanita untuk diam saat sedang merasa sedih.

Suara.com - Keguguran sebagian besar terjadi dalam 10 minggu pertama kehamilan, dan hanya 5% wanita yang akan mengalaminya sebanyak dua kali, hanya satu persen mengalami tiga kali atau lebih.

Gejala keguguran, terutama perdarahan hebat dan kram, bisa berlangsung hingga dua minggu. Sedangkan pendarahan yang lebih ringan dapat berlangsung selama satu hingga dua minggu.

Kadar hormon kehamilan bisa tetap tinggi selama berhari-hari atau beberapa minggu setelahnya, namun, ini bergantung pada seberapa usia kehamilan sang ibu.

Melansir Insider, untuk mendapatkan periode menstruasi normal seorang wanita menunggu empat hingga enam minggu.

Baca Juga: Enam Gangguan Psikologis Paling Sering Dialami Saat Pandemi, Apa Saja?

Sementara dampak fisik bisa kembali normal dalam beberapa minggu setelah insiden keguguran, dampak emosional justru lebih rumit.

Ilustrasi keguguran. (Shutterstock)
Ilustrasi keguguran. (Shutterstock)

Rasa sakit psikologis diperumit oleh kecenderungan wanita untuk diam saat sedang merasa sedih.

"Ini karena masalah keguguran masih tabu di masyarakat," ujar Amanda Kallen, asisten profesor ilmu kebidanan, ginekologi, dan reproduksi di Yale School of Medicine.

Menurut penelitian, dukungan sosial terbukti sangat penting dalam penyembuhan emosional setelah keguguran.

"Bergantung pada berapa lama waktu telah berlalu, atau jika seseorang telah menginvestasikan waktu dan energi untuk perawatan kesuburan, prosesnya dapat berlangsung lama dan rumit," sambungnya.

Baca Juga: Polisi yang Ancam Penggal Kepala Habib Rizieq Jalani Pemeriksaan Psikologis

Komentar