alexametrics

Pandemic Fatigue, Begini Cara Menanganinya

Vania Rossa | Dinda Rachmawati
Pandemic Fatigue, Begini Cara Menanganinya
Orang stres, emosi (Unsplash)

Kelelahan fisik dan mental tentang pandemi, lama-kelamaan bisa berubah menjadi semakin berbahaya dan fatal.

Suara.com - Setelah hampir setahun kita berada di masa pandemi, melewati fase khawatir dan cemas akan infeksi virus corona, kini banyak orang mulai dilanda pandemic fatigue atau kelelahan akan pandemi.

Tampaknya, kini orang mulai merasa bosan di rumah dan lelah menjalani protokol kesehatan. Tak sedikit yang kini berani kembali kumpul dan nongkrong di kafe, bahkan bepergian ke luar kota bahkan luar negeri. Semakin banyak orang berpikir, membatasi diri selama pandemi membuat mereka justru kesulitan mencari penghasilan.

Psikiater Nova Riyanti Yusuf, SpKJ mengungkap bahwa pandemic fatigue sebenarnya merupakan reaksi yang wajar dan diperkirakan terjadi sebagai akibat dari kesulitan berkelanjutan dan tidak terselesaikan dalam kehidupan manusia.

"Saat itu terjadi, kita memang secara alami menjadi lelah dengan aturan dan panduan yang harus diikuti untuk mencegah penyebaran Covid-19," jelas perempuan yang juga menjabat sebagai Secretary General Asian Federation of Psychiatric Associations itu, dalam webinar yang diadakan Suara.com berjudul 'Lelah dan Bosan Hadapi Pandemi, Waspada Bahaya Pandemic Fatigue', Jumat (29/1/2021).

Baca Juga: Videografis: Alami Pandemic Fatigue? Ini Cara Mengatasinya

Lebih lanjut, perempuan yang kerap disapa Noriyu itu juga mengatakan bahwa ini semua bisa menyebabkan demotivasi, khususnya perilaku yang berkaitan dengan Covid-19. Mulai dari malasnya mencari informasi mengenai perkembangan virus ini, pengasingan diri, hingga ketidakberdayaan.

Kondisi ini, kata Noriyu, merupakan akumulasi dari berbagai kesulitan yang dihadapi seseorang selama pandemi Covid-19. Di mana, saat ketakutan dan kecemasan semakin meluas, kita tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai hal. Mulai dari pembatasan wilayah yang membuat aktivitas juga terbatas, bahkan terhenti.

"Adanya ancaman infeksi atau reinfeksi, dan juga takut menginfeksi orang lain. Ini bisa menimbulkan perasaan traumatis. Misalnya, ibunya meninggal karena terinfeksi dari dia. Kita pasti banyak sekali menemukan kasus-kasus itu di masyarakat, hingga timbul perasaan bersalah," kata dia.

Selain itu, isolasi sosial juga bisa memperburuk kesehatan jiwa yang pada akhirnya membuat kita mengalami pandemic fatigue. Di mana, kita menjadi sulit untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang terdekat dan mulai merasa kesepian.

Hal terakhir adalah ketidakpastian ekonomi, yang dianggap sebagai hal utama yang bisa menimbulkan ketakutan dan juga kecemasan. Semakin lama pandemi, maka semakin luas pula hal ini dirasakan di masyarakat.

Baca Juga: Videografis: Tanda-tanda Anda Alami Pandemic Fatigue

Cara terhindar dari pandemic fatigue
Kelelahan fisik dan mental tentang pandemi, lama-kelamaan bisa berubah menjadi semakin berbahaya dan fatal. Karena itu hal ini perlu diatasi secepatnya.

Komentar