Meski Menular, Kusta Bukan Penyakit Kutukan dan Keturunan

Vania Rossa, Lilis Varwati

Jum'at, 05 Februari 2021 | 14:28 WIB
Meski Menular, Kusta Bukan Penyakit Kutukan dan Keturunan
Ilustrasi tangan yang terkena kusta. (Shutterstock)

Suara.com - Kusta termasuk penyakit kulit yang bisa menular akibat kontak erat. Lantaran penyakitnya yang timbul di permukaan kulit, hal ini menyebabkan timbulnya stigma di masyarakat mengenai kusta sebagai penyakit kutukan.

Padahal, serupa dengan penyakit kulit lainnya, kusta juga bisa diobati hingga sembuh. Menurut, Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen Indonesia Dr. dr. Sri Linuwih Menaldi. Sp.KK(K)., kebanyakan pasien tidak menyadari gejalanya sehingga terlambat berobat dan membuat tampilan kusta jadi menyeramkan.

"Stigma ratusan tahun tidak pernah hilang karena menganggap melihatnya seram, karena sudah terlambat. Mereka tidak ketahui gejala awalnya. Datang sudah cacat, luka sudah besar," kata dokter Sri saat siaran langsung dengan Radio Kesehatan Kemenkes, Jumat (5/2/2021).

Selain stigma kutukan, masyarakat juga masih keliru karena menganggap kusta sebagai penyakit keturunan. Pemahaman itu timbul, menurut Sri, karena biasanya dalan satu keluarga ada lebih dari satu orang yang mengalami sakit kusta.

"Ini sebenarnya bukan keturunan tapi karena kontak erat. Ya, adanya di dalam keluarga. Kalau ada orang dewasa sakit, tidak diobati, padahal obat ada di puskesmas, gratis pula," ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa orang dewasa yang sakit kusta bisa menularkan kepada anak-anak jika terus terjadi kontak erat dalam jangka waktu beberapa tahun. Karena itu, sejumlah kasus kerap ditemukan pasien kusta berada dalam satu keluarga yang sama.

Jika anak di bawah usia 12 tahun mengalami kusta, maka ia harus menjalani perawatan medis dan meminum obat setiap hari selama 6-12 bulan. Dokter Sri menyampaikan, kusta juga bisa menyebabkan kecacatan pada anak.

"Itu mungkin akan menimbulkan masalah hubungan sosial untuk anak dan itu sangat mengganggu perkembangan jiwanya," ucap dokter Sri.

Oleh sebab itu, sangat penting menghilangkan stigma di masyarakat yang menganggap kusta sebagai kutukan atau keturunan. Terpenting menurut dokter Sri, masyarakat justru harus lebih mengenali gejala kusta agar bisa deteksi dini dan mencegah penularan.

baca juga

"Stigma itu harus kita buang, harus kita kikis. Ini bukan penyakit kutukan, bukan penyakit keturunan. Ini penyakit yang disebabkan bakteri tertentu yang bisa diobati," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cegah Kusta Kepada Anak, Waspada Jika Ada Bercak Mati Rasa di Kulit

Cegah Kusta Kepada Anak, Waspada Jika Ada Bercak Mati Rasa di Kulit

Health | Jum'at, 05 Februari 2021 | 13:52 WIB

Keluarga Terinfeksi Kusta, Perlukah Dikarantina dan Dibedakan Alat Makan?

Keluarga Terinfeksi Kusta, Perlukah Dikarantina dan Dibedakan Alat Makan?

Health | Selasa, 02 Februari 2021 | 11:05 WIB

Serupa Tapi Tak Sama, Ini Beda Bentuk Kusta dan Kurap di Kulit

Serupa Tapi Tak Sama, Ini Beda Bentuk Kusta dan Kurap di Kulit

Health | Senin, 01 Februari 2021 | 21:28 WIB

Terkini

Ironi Ruang Publik: Spanduk Protes Ditertibkan, Bendera Partai Dibiarkan

Ironi Ruang Publik: Spanduk Protes Ditertibkan, Bendera Partai Dibiarkan

Your Say | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:01 WIB

Sekolah Tak Cukup Hanya Menghukum Pelaku Perundungan, KPAI: Harus Awasi Perubahan Perilaku Anak

Sekolah Tak Cukup Hanya Menghukum Pelaku Perundungan, KPAI: Harus Awasi Perubahan Perilaku Anak

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:01 WIB

Shampoo Bar vs Shampoo Cair, Mana yang Lebih Cocok untuk Rambutmu?

Shampoo Bar vs Shampoo Cair, Mana yang Lebih Cocok untuk Rambutmu?

Lifestyle | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Kasus Polisi Tembak Polisi: Mengapa Bisa Terjadi dan Apa yang Harus Dievaluasi?

Kasus Polisi Tembak Polisi: Mengapa Bisa Terjadi dan Apa yang Harus Dievaluasi?

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:00 WIB

92 Titik Panas Masih Terdeteksi di Gunung Arjuno, Bantuan Water Bombing Dikejar

92 Titik Panas Masih Terdeteksi di Gunung Arjuno, Bantuan Water Bombing Dikejar

Jatim | Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:59 WIB

TEMPEST Akhiri Aktivitas Grup, Hyuk Segera Wamil dan LEW Tinggalkan Agensi

TEMPEST Akhiri Aktivitas Grup, Hyuk Segera Wamil dan LEW Tinggalkan Agensi

Your Say | Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Karpet Merah untuk Danantara dan BUMN, Prabowo Setuju Ubah Definisi Kerugian Negara Bukan Korupsi?

Karpet Merah untuk Danantara dan BUMN, Prabowo Setuju Ubah Definisi Kerugian Negara Bukan Korupsi?

Bisnis | Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:53 WIB

Fenomena Brain Drain: Mengapa Talenta Terbaik Indonesia Lebih Pilih Berkarier di Luar Negeri?

Fenomena Brain Drain: Mengapa Talenta Terbaik Indonesia Lebih Pilih Berkarier di Luar Negeri?

Your Say | Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:51 WIB

Samsung Galaxy S27 Dikabarkan Lebih Hemat Baterai Berkat Modem 5G Baru

Samsung Galaxy S27 Dikabarkan Lebih Hemat Baterai Berkat Modem 5G Baru

Tekno | Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:49 WIB

Persija Lama Tak Kalahkan Arema FC, Shin Tae-yong Siap Hapus Rekor Buruk di Bekasi

Persija Lama Tak Kalahkan Arema FC, Shin Tae-yong Siap Hapus Rekor Buruk di Bekasi

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:48 WIB

×