Kasus Harian Covid-19 Indonesia Turun Drastis, Tanda Pandemi Terkendali?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 01 Maret 2021 | 13:33 WIB
Kasus Harian Covid-19 Indonesia Turun Drastis, Tanda Pandemi Terkendali?
Ilustrasi warga melakukan tes swab. [Antara]

Suara.com - Dalam satu minggu terakhir, jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia menurun secara drastis. Bahkan kasus harian pada 28 Februari 2021 hanya mencatat 5.560 orang yang terinfeksi dari total spesimen yang diperiksa 35.434, dan positivity rate sekitar 18 persen.

Jumlah tersebut turun drastis dari paling tidak 22 Februari 2021 dengan jumlah kasus harian 10.180. Melihat kasus ini, benarkah situasi pandemi Covid-19 di Indonesia terkendali?

"Sudah sangat jelas ini bukan tanda penurunan, yang menurun testingnya, dan jangan melihat satu performa pengendalian pandemi ini harus komprehensif, melihat dan melihat post effect dan logic program," ujar Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman kepada Suara.com, Senin, (1/3/2021).

Menurut Dicky, penurunan kasus harian yang terjadi di Indonesia tidak bisa dijadikan indikator pandemi telah terkendali. Dicky mengungkapkan bahwa dalam kurun satu tahun positivity rate Indonesia jauh dari 10 persen.

WNA pencari suaka di Kota Tangerang Selatan menjalani tes swab, di Komplek Jambusari, Pisangan, Ciputat Timur, Rabu (28/10/2020). [Suara.com/Wivy Hikmatullah]
WNA pencari suaka di Kota Tangerang Selatan menjalani tes swab, di Komplek Jambusari, Pisangan, Ciputat Timur, Rabu (28/10/2020). [Suara.com/Wivy Hikmatullah]

"Dari satu tahun ini banyak sekali kasus positif yang tidak ditemukan, dan itu menjadi bola salju, dan fenomena gunung es itu yang terjad. Yang kita temukan itu puncak gunung es, dan itu bagian kecil itu lah sebabnya harus berhati-hati melihat tren atau kasus harian, karena kalau testing tracing tidak optimal, maka datanya tidak valid," ujar Dicky.

Untuk bisa menilai secara komprehensif perlu melihat data performa selama dua minggu terakhir dan juga potivity rate. Dicky mengatakan, jika melihat pemodelan epidemiologi kasus harian di Indonesia diperkirakan bisa mencapai 100 ribuan, namun yang ditemukan hanya lima ribuan.

"Virus ini ditemukan atau tidak akan ada hukum biologinya yang hanya bisa diputus transmisinya dengan penemuan kasus secara dini dengan testing tracing dan karantina mandiri," kata Dicky.

Dicky melanjutkan, bahwa yang terjadi saat ini bisa menjadi salah memahmi dan ekpektasi terhadap pandemi. Kelirunya pemahaman ini bisa berujung pada kondisi pandemi yang makin sulit terkendali.

"Kita bisa terakhir yang bisa keluar dari krisis Covid-19, walaupun awal tahun depan atau akhir tahun WHO mencabut status pandemi tidak serta merta semua negara keluar dari situasi krisis, karena bisa jadi sedang mengalami situasi yang paling buruk dan itu bisa dialami Indonesia kalau tidak memperbaiki 3T, kalau 3T tidak memadai optimal akan terpuruk," kata dia.

baca juga

Tes yang ideal

Dicky mengatakan bahwa untuk bisa memahami situasi pandemi harus mengedepankan langkah testing, tracing, dan treatmen. Kepada Suara.com, Dicky juga menjabarkan hitungan sederhana jumlah tes Covid-19 yang ideal.

"Sederhana saja misal kemarin itu ada 10 ribu kasus positif dilaporkan, dari 10 ribu kasus dilaporkan berdasar pedoman who setidaknya 80 persen kasus kontaknya dari 10 ribu teridentifikasi," ujar Dicky.

Jika bicara pedoman pelacakan kasus, lanjut Dicky, di studi epidemiogi di Asian Tenggara mengatakan, bahwa dari 1 kasus positif harus ditemukan 20-25 kontak erat.

"Kalau dari 10 ribu, 20 kasus kontaknya berarti 200 ribu yang harus ditemukan minimal, itu link pertama itu di testing 200 ribu itu, sekarang berapa testing ktia? Itu kan dari awal pandemi, tapi performa itu tidak ada yang 100 ribu dan hampir satu tahun," papar Dicky.

"Jadi dari 10 ribu atau 5 ribu hari ini, misal  berarti kan 100 ribu. Jadi testing kita harusnya di kisaran dari awal-awal tahun 2021 di 250 ribu sampai 300 ribu, bahkan harusnya 500 ribu."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cuma ada 71 Orang Positif COVID-19 di Batam

Cuma ada 71 Orang Positif COVID-19 di Batam

Batam | Senin, 01 Maret 2021 | 13:30 WIB

Gelar Pesta di Restoran Saat Pandemi, Dua Menteri Yordania Dipecat

Gelar Pesta di Restoran Saat Pandemi, Dua Menteri Yordania Dipecat

News | Senin, 01 Maret 2021 | 13:02 WIB

Lagi, di Kaltim Pasien Sembuh Lebih Banyak Dibanding Kasus Positif Covid-19

Lagi, di Kaltim Pasien Sembuh Lebih Banyak Dibanding Kasus Positif Covid-19

Kaltim | Senin, 01 Maret 2021 | 12:59 WIB

Terkini

Bulog Tertibkan Penyaluran Beras SPHP, Bentuk Satgas Khusus & Perkuat Pengawasan Nasional

Bulog Tertibkan Penyaluran Beras SPHP, Bentuk Satgas Khusus & Perkuat Pengawasan Nasional

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:39 WIB

Kecewa Berat, Kronologi Kasus Pemanis Beeru Stevia yang Berujung Penjualan Dihentikan

Kecewa Berat, Kronologi Kasus Pemanis Beeru Stevia yang Berujung Penjualan Dihentikan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:34 WIB

100 Persen Negara Asia Dukung Gianni Infantino, Erick Thohir: Sudah Jelas

100 Persen Negara Asia Dukung Gianni Infantino, Erick Thohir: Sudah Jelas

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:33 WIB

Mendagri Terbitkan SE untuk Perkuat Peran Pemda Awasi Program MBG

Mendagri Terbitkan SE untuk Perkuat Peran Pemda Awasi Program MBG

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:32 WIB

Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau

Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:30 WIB

Polda DIY Akui Terima BKO Pasukan Luar Daerah untuk Pengamanan Aksi di Malioboro

Polda DIY Akui Terima BKO Pasukan Luar Daerah untuk Pengamanan Aksi di Malioboro

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:27 WIB

Tarif dan Rute Angkot T19 yang Bawa Mahasiswa ke Bundaran HI Bak Kuda Troya

Tarif dan Rute Angkot T19 yang Bawa Mahasiswa ke Bundaran HI Bak Kuda Troya

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:25 WIB

Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Gen Z: Evolusi atau Ancaman Identitas?

Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Gen Z: Evolusi atau Ancaman Identitas?

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:24 WIB

Penanganan Pascabencana Sumatera, Kasatgas Tito Monitor Penanganan Infrastruktur dan Fasilitas UMKM

Penanganan Pascabencana Sumatera, Kasatgas Tito Monitor Penanganan Infrastruktur dan Fasilitas UMKM

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:22 WIB

Wacana Revisi UU Tipikor, Diingatkan Jangan Berdiri Sendiri, Harus Dibarengi Reformasi Sistemik

Wacana Revisi UU Tipikor, Diingatkan Jangan Berdiri Sendiri, Harus Dibarengi Reformasi Sistemik

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:21 WIB

×