Studi: Lama Antibodi Covid-19 Bertahan Bisa Berbeda Tiap Orang

Cesar Uji Tawakal | Fita Nofiana | Suara.com

Jum'at, 26 Maret 2021 | 08:15 WIB
Studi: Lama Antibodi Covid-19 Bertahan Bisa Berbeda Tiap Orang
Ilustrasi penularan virus corona. [Shutterstock]

Suara.com - Antibodi virus corona yang muncul setelah infeksi bisa berbeda pada setiap orang. Pada orang tertentu, antibodi hanya bertahan hanya beberapa hari. Namun bisa juga bertahan lama bahkan selama beberapa dekade pada orang lain.

Melansir dari Healthshots, kekebalan Anda menentukan berapa lama antibodi Covid-19 bertahan di dalam tubuh. Hal ini dinyatakan dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Microbe

Para peneliti mencatat bahwa pasien yang pulih dengan tingkat antibodi penetral yang rendah mungkin masih terlindungi dari infeksi ulang jika mereka memiliki kekebalan yang kuat dalam bentuk sel T tubuh.

Dalam studi tersebut, para ilmuwan, termasuk dari Duke-NUS Medical School di Singapura, mengikuti 164 pasien Covid-19 selama enam hingga sembilan bulan.

Mereka menganalisis darah untuk menetralkan antibodi terhadap virus SARS-CoV-2, sel T, dan sistem kekebalan perserta.

Mereka kemudian menggunakan informasi ini untuk melatih algoritme pembelajaran mesin yang kemudian memprediksi lintasan antibodi penetral dari waktu ke waktu.

Berdasarkan analisis, para peneliti mengelompokkan orang menjadi lima kelompok tergantung pada berapa lama antibodi mereka bertahan.

Kelompok pertama adalah mereka yang tidak pernah mengembangkan antibodi penetral yang terdeteksi juga disebut kelompok 'negatif'. Kelompok ini terdiri dari 11,6 persen pasien dalam penelitian.

Kelompok kedua adalah'penurunan cepat' yang mencakup 26,8 persen dari pasien di mana memiliki berbagai tingkat antibodi awal yang memudar dengan cepat.

Kelompok ketiga dengan 'penurunan lambat' mencakup 29 persen dari peserta, sebagian besar dites positif untuk antibodi pada enam bulan.

Kelompok 'gigih' yang terdiri dari 31,7 persen individu menunjukkan sedikit perubahan pada tingkat antibodi mereka hingga 180 hari. Artinya mereka masih tetap memiliki antibodi kuat bahkan setelah 6 bulan.

Sementara kelompok terakhir, 1,8 persen peserta menunjukkan peningkatan signifikan dalam antibodi penawar selama pemulihan akhir.

Ilustrasi Virus Corona (Unsplash/CDC)
Ilustrasi Virus Corona (Unsplash/CDC)

“Pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa ketahanan fungsi antibodi penawar terhadap SARS-CoV-2 dapat sangat bervariasi dan penting untuk memantau hal ini pada tingkat individu,” kata Profesor Wang Linfa dari Duke-NUS 'Emerging Infectious Diseases Program (EID) dan penulis studi terkait.

“Pekerjaan ini mungkin berimplikasi pada umur panjang kekebalan setelah vaksinasi, yang akan menjadi bagian dari studi lanjutan kami,” tambah Linfa.

Berdasarkan hasil tersebut, para ilmuwan menekankan pentingnya kesehatan masyarakat dan tindakan sosial dalam penanggulangan wabah pandemi yang sedang berlangsung.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemain Der Panzer Positif COVID-19, Laga Jerman Vs Islandia Tetap Digelar

Pemain Der Panzer Positif COVID-19, Laga Jerman Vs Islandia Tetap Digelar

Bola | Kamis, 25 Maret 2021 | 23:43 WIB

Studi di AS Sebut Pasien Covid-19 Berisiko Lebih Tinggi Terkena Stroke

Studi di AS Sebut Pasien Covid-19 Berisiko Lebih Tinggi Terkena Stroke

Health | Kamis, 25 Maret 2021 | 21:05 WIB

Menristek Bambang Harap Tes Saliva Covid-19 Tersebar Sampai Pelosok

Menristek Bambang Harap Tes Saliva Covid-19 Tersebar Sampai Pelosok

Health | Kamis, 25 Maret 2021 | 23:55 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB