Suara.com - Pasangan baru Aurel Hermansyah dan Atta Halilintar sebelum menikah sempat melakukan check up kesehatan reproduksi ke dokter kandungan.
Setelah diperiksa, ternyata Aurel didiagnosis memiliki kista ovarium. Namun, dokter belum bisa mendeteksi jenisnya, sehingga meminta gadis 22 tahun tersebut untuk kembali memeriksakan dirinya setelah menstruasi.
"Kita harapnya sih kista hormonal," kata dokter dalam vlog yang diunggah ke kanal YouTube The Hermansyah A6, Kamis (1/4/2021).
Selama ini, mitos yang sering berkembang tentang kista ovarium atau kista rahim adalah bahwa ini memengaruhi kesuburan sehingga menyulitkan seorang wanita untuk hamil.
Padahal, tidak semua kista ovarium menyebabkan penurunan kesuburan. Hal itu tergantung pada jenis kista ovarium yang dimiliki.

Agar lebih memahaminya, berikut mitos-mitos tentang kista ovarium yang tidak perlu dipercayai lagi, melansir laman Winne Palmer Hospital For Women & Babies:
1. Kista ovarium perlu diangkat dengan operasi
Tidak semua kista ovarium membutuhkan operasi pengangkatan. Kebanyakan kista ovarium berukuran kecil, tampaknya non-kanker, dan sembuh dengan sendirinya.
Pembedahan dilakukan ketika wanita tersebut mengalami gejala rasa sakit tidak kunjung membaik, kista terus membesar, demam atau tanda infeksi yang dikombinasikan degan ketidaknyamanan panggul bagian bawah.
Jenis kista seperti kista dermoid, endometrioma, atau kista yang memiliki tampilan tidak normal perlu diangkat melalui pembedahan.
2. Kista ovarium menyebabkan ketidaksuburan
Infertilitas atau ketidaksuburan biasanya didiagnosis setelah pasangan tidak bisa hamil setelah periode 12 bulan.
Wanita memiliki berisiko mengalami infertilitas ketika tidak berovulasi (tandanya menstruasi tidak teratur), memiliki riwayat operasi tuba falopi, masalah hipofisis atau tiroid, atau memiliki riwayat klamidia, penyakit radang panggul, atau kehamilan ektopik.
Kista ovarium yang dapat menyebabkan ketidaksuburan adalah kista yang mengandung endometriosis dan yang terinfeksi hingga menyebabkan infeksi panggul dan membentuk jaringan parut di saluran tuba. Namun ini jarang terjadi.
3. Kista ovarium bersifat kanker