Peneliti Temukan Covid-19 Hanya Bersifat Musiman, Ini Buktinya!

Yasinta Rahmawati, Shevinna Putti Anggraeni

Selasa, 04 Mei 2021 | 13:56 WIB
Peneliti Temukan Covid-19 Hanya Bersifat Musiman, Ini Buktinya!
Ilustrasi virus corona Covid-19, virus corona, novel coronavirus (Pixabay/mohamed_hassan)

Suara.com - Virus corona Covid-19 nampaknya termasuk virus yang bersifat musiman. Sebuah studi baru menunjukkan suhu hangat dan iklim tropis benar-benar bisa membantu mengurangi penyebaran virus corona Covid-19.

Studi tersebut menemukan bahwa wilayah dengan suhu hangat dan paparan sinar matahari berjam-jam, seperti negara yang dekat dengan ekuator dan mengalami musim panas memiliki tingkat kasus virus corona Covid-19 yang lebih rendah, dibandingkan dengan negara yang jauh dari khatulistiwa dan negara yang mengalami cuaca lebih dingin.

Penemuan ini dilakukan setelah para peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi penyebaran virus corona Covid-19 dan jumlah kasus yang terhitung, seperti tingkat ubanisasi suatu negara dan intensitas pengujian virus corona Covid-19.

Tapi, peneliti menegaskan bahwa temuan mereka ini bukan berarti cuaca panas akan membantu membunuh dan menyingkirkan virus corona Covid-19. Temuan ini memberikan pandangan bagi orang yang terinfeksi virus corona untuk melawan penyakitnya.

"Hasil temuan kami tidak menyiratkan bahwa penyakit itu akan hilang selama musim panas atau tidak akan mempengaruhi negara yang dekat dengan khatulistiwa," kata peneliti dalam jurnalnya dikutip dari Fox News.

Ilustrasi Virus Corona Covid-19 (Unsplash/CDC)
Ilustrasi Virus Corona Covid-19 (Unsplash/CDC)

Mereka memiliki pandangan bahwa suhu yang lebih tinggi dan radiasi UV (ultraviolet) yang lebih intens di musim panas cenderung mendukung langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk mencegah virus corona Covid-19.

Tak lama setelah pandemi Covid-19 dimulai pada musim dingin 2020 lalu, ada spekulasi bahwa musim panas bisa meredakan virus corona Covid-19. Banyak virus pernapasan, termasuk virus flu menunjukkan pola yang meningkat selama musim dingin dan menurunkan selama musim panas.

Para ilmuwan tidak tahu pasti hal yang menyebabkan virus ini mengikuti pola musiman. Tetapi, ada sejumlah faktor yang diduga berperan kuat dalam hal tersebut.

Misalnya, banyak virus yang bertahan lebih stabil dan lebih lama di lingkungan dengan suhu dingin dan kelembapan rendah. Lalu, perilaku manusia yang berkumpul di dalam ruangan pada musim dingin bisa meningkatkan penularan virus tersebut.

baca juga

Studi di laboratorium piring juga menemukan bahwa suhu dan kelembapan yang tinggi bisa menurunkan kemampuan bertahan hidup virus corona Covid-19. Tapi, belum jelas faktor cuaca itulah yang akhirnya menyebabkan penyebaran di seluruh dunia ini atau tidak.

Dalam studi baru, para peneliti menganalisis informasi dari 117 negara, menggunakan penyebaran data virus corona Covid-19 dari awal pandemi hingga Januari 2021.

Mereka menggunakan metode statistik untuk mengatur hubungan antara garis lintang suatu negara, yang mempengaruhi jumlah sinar matahari serta suhu dan kelembapan dan tingkat penyebaran virus corona.

Mereka juga menggunakan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengontrol faktor-faktor yang tidak bisa dipengaruhi suara negara yang terkena virus corona, seperti perjalanan Udara, pengeluaran perawatan kesehatan, rasio orang dewasa tua dan perkembangan ekonomi.

Mereka menemukan bahwa setiap kenaikan 1 derajat di garis lintang suatu negara dari khatulistiwa dikaitkan dengan peningkatan jumlah kasus virus corona 4,3 persen per juta orang.

Artinya, bila suatu negara berjarak 620 mil (1.000 kilometer) lebih dekat ke khatulistiwa dibandingkan dengan negara lain, negara yang lebih dekat ke khatulistiwa diperkirakan memiliki lebih sedikit kasus virus corona, yakni 33 persen per juta orang.

"Hasil kami konsisten dengan hipotesis bahwa panas dan sinar matahari bisa mengurangi penyebaran virus corona Covid-19 dan prevalensinya," kata peneliti dari Heidelberg Institute of Global Health di Jerman dan Chinese Academy of Medical.

Temuan itu juga berarti ancaman kebangkitan epidemi bisa meningkat selama musim dingin, seperti yang terlihat di banyak negara di Belahan Bumi Utara pada Desember 2020 hingga Januari 2021.

Para peneliti mengatakan bahwa penelitian mereka hanya mencaku data hingga 9 Januari 2021, sebelum kemunculan sejumlah varian baru virus corona Covid-19. Jadi, mereka belum tahu sejumlah varian baru virus corona itu akan menunjukkan pola infeksi serupa atau tidak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ahli Peringatkan Risiko Mucormycosis pada Pasien Covid-19 yang Sembuh

Ahli Peringatkan Risiko Mucormycosis pada Pasien Covid-19 yang Sembuh

Health | Selasa, 04 Mei 2021 | 12:54 WIB

Berkurang Puluhan, RSD Wisma Atlet Kini Rawat 1.423 Pasien Covid-19

Berkurang Puluhan, RSD Wisma Atlet Kini Rawat 1.423 Pasien Covid-19

News | Selasa, 04 Mei 2021 | 10:37 WIB

Pandemi Covid-19 Belum Usai, Inggris Alami Lonjakan Rhinovirus

Pandemi Covid-19 Belum Usai, Inggris Alami Lonjakan Rhinovirus

Health | Senin, 03 Mei 2021 | 21:05 WIB

Terkini

Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris

Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris

Lifestyle | Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:03 WIB

Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026

Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026

Bogor | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:57 WIB

Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI

Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI

Jakarta | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:36 WIB

Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI

Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere

Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere

Bali | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las

Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:09 WIB

Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026

Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:59 WIB

5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran

5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo

Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:41 WIB

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:40 WIB

×