alexametrics

Paparan Polusi Turunkan Kemampuan Otak Pria, Terutama Terkait Bahasa

Cesar Uji Tawakal | Fita Nofiana
Paparan Polusi Turunkan Kemampuan Otak Pria, Terutama Terkait Bahasa
Ilustrasi polusi udara. (Elements Envato)

Studi baru menunjukkan bahwa paparan polusi udara kemungkinan bisa menurunkan kemampuan otak pria.

Suara.com - Paparan polusi udara, bahkan hanya untuk beberapa minggu dapat mengganggu kemampuan pria lansia untuk berpikir dan berbicara dengan jelas. Hal ini dinyatakan oleh penelitian yang terbit pada jurnal Nature Aging.

Melansir dari Independent, para peneliti mempelajari hampir 1.000 pria kulit putih dari Greater Boston dengan usia rata-rata 69 tahun.

Para ilmuwan yang dipimpin Universitas Columbia menemukan bahwa kemampuan kognitif pria tersebut turun setelah lonjakan polusi udara dalam 28 hari sebelum pengujian.

Mereka yang terkena tingkat PM2.5, polusi partikel yang biasanya disebabkan oleh asap lalu lintas, pembakaran bahan bakar, dan kebakaran hutan yang lebih tinggicenderung tampil lebih buruk dalam tugas-tugas seperti kefasihan verbal, memori kata, dan mengingat angka.

Baca Juga: Waspada, Berikut 8 Risiko Kesehatan Akibat Polusi Kimiawi

Kondisi ini bahkan terlihat ketika tingkat polusi tetap di bawah ambang batas keamanan yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 10 mikrogram per meter kubik.

Namun penelitian baru ini juga menemukan bahwa pria yang mengonsumsi aspirin atau obat antiinflamasi nonsteroid lainnya, yang dikenal sebagai NSAID, tampaknya tidak mengalami penurunan kognitif yang sama akibat paparan polusi udara.

Ilustrasi polusi udara di Cina. [AFP]
Ilustrasi polusi udara di Cina. [AFP]

Para peneliti menyarankan NSAID, terutama aspirin dapat memoderasi peradangan saraf  atau perubahan aliran darah ke otak yang dipicu oleh menghirup polusi.

“Terlepas dari peraturan tentang emisi, lonjakan polusi udara jangka pendek tetap sering terjadi dan berpotensi mengganggu kesehatan, termasuk pada tingkat di bawah yang biasanya dianggap berbahaya,” kata penulis senior Dr Andrea Baccarelli, ketua Departemen Ilmu Kesehatan Lingkungan Columbia.

"Konsumsi aspirin atau obat anti-inflamasi lainnya tampaknya mengurangi efek ini, meskipun perubahan kebijakan untuk lebih membatasi polusi udara masih diperlukan," imbuhnya.

Baca Juga: Terganggu! Warga Siak Keluhkan Tiap Hari Hirup Asap Cerobong Pabrik Sawit

Komentar