Cara Mengetahui Bayi Anda Punya Alergi Atau Tidak, Lihat Feses Pertamanya!

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah | Suara.com

Senin, 24 Mei 2021 | 11:49 WIB
Cara Mengetahui Bayi Anda Punya Alergi Atau Tidak, Lihat Feses Pertamanya!
Ilustrasi bayi baru lahir (Pexels)

Suara.com - Kotoran pertama bayi mungkin tidak dianggap istimewa bagi sebagian besar orang tua. Tetapi faktanya, mekonium ini dapat 'memberi tahu' apakah sang bayi memiliki alergi tertentu atau tidak.

Mekonium merupakan feses berwarna hijau tua, kental, dan lengket, yang diproduksi di usus janin sebelum lahir. Ini akan dikeluarkan oleh bayi pada beberapa hari pertama kehidupannya.

Feses ini mengandung zat-zat yang ditelan bayi saat berada di dalam kandungan, seperti cairan ketuban, air, lendir, sel-sel kulit, dan rambut halus. Mekonium mulai terbentuk dalam janin di usia 16 minggu, yang berarti susunannya dipengaruhi oleh apa pun yang ditemui janin sejak saat itu.

Jika dilihat secara mikroskopis, mekonium juga menjadi bahan awal untuk mengembangkan mikrobioma dan sistem kekebalan tubuh bayi, lapor Science Alert.

Apabila campuran molekul yang kaya dan seimbang itu tidak ditemukan di dalam feses sang bayi, para peneliti menduga itu dapat menghambat kolonisasi bakteri di usus. Akibatnya sang bayi berisiko tinggi menderita penyakit alergi, seperti asma atau eksim di masa depan.

Ilustrasi bayi (Unsplash/Liane)
Ilustrasi bayi baru lahir (Unsplash/Liane)

Peneliti menganalisis 100 sampel mekonium yang diambil sebagai bagian dari CHILD Cohort Study. Mereka membandingkan sampel dengan tes alergi yag dilakukan pada bayi berusia satu tahun.

Hasil studi menunjukkan, bayi yang telah mengembangkan kepekaan alergi pada saat itu memiliki metabolisme yang kurang bergam pada kotoran pertama mereka.

"Kami menemukan kurangnya keragaman, terutama dalam jumlah jenis asam amino, vitamin, dan senyawa tanaman," kata penulis studi Charisse Petersen, yang mempelajari mikrobioma awal di The University of British Columbia, Kanada.

Kelompok molekul ini diketahui memberi makan mikrobioma yang sedang berkembang, yang mulai terbentuk ketika seorang bayi dilahirkan dan mikroba mulai menjajah usus mereka.

Kehadiran mikrobioma ini juga memungkinkan sistem kekebalan untuk mempelajari apa yang sebenarnya menimbulkan bahaya.

"Mikroba baru ditoleransi dan dibiarkan 'menjajah' kita, dan pada waktunya akan mengajari sel kekebalan untuk tidak bereaksi secara berlebihan terhadap sinyal jinak," sambungnya.

"Sayangnya, kami berpikir bahwa beberapa bayi tidak dijajah dengan cukup bakteri menguntungkan ini untuk melatih sel kekebalan mereka," lanjutnya.

Namun, peneliti belum menemukan apa penyebabnya. Mereka sedang menganalisis bagaimana pola makan selama kehamilan dapat berperan.

Untuk meningkatkan kesehatan usus anak, Petersen merekomendasikan untuk menghindari resep antibiotik yang tidak perlu, mengizinkan anak-anak bermain di luar ruangan, mengurangi penggunaan disinfektan, dan menjalani kelahiran vagina serta menyusui jika memungkinkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tinggalkan Cotton Bud, Air dan Garam Bisa untuk Bersihkan Kotoran Telinga

Tinggalkan Cotton Bud, Air dan Garam Bisa untuk Bersihkan Kotoran Telinga

Health | Kamis, 20 Mei 2021 | 19:18 WIB

Cobalah Deteksi Penyakit Hati Berlemak, Perhatikan Tekstur dan Warna Feses!

Cobalah Deteksi Penyakit Hati Berlemak, Perhatikan Tekstur dan Warna Feses!

Health | Senin, 10 Mei 2021 | 09:01 WIB

6 Penyebab Feses Tiba-tiba Berbau Busuk, Bisa Jadi Masalah Kesehatan!

6 Penyebab Feses Tiba-tiba Berbau Busuk, Bisa Jadi Masalah Kesehatan!

Health | Selasa, 30 Maret 2021 | 08:05 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB