alexametrics

Temuan Baru, Gas Tertawa Dapat Mengobati Gejala Depresi, Kok Bisa?

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Temuan Baru, Gas Tertawa Dapat Mengobati Gejala Depresi, Kok Bisa?
Ilustrasi lelaki tertawa (Shutterstock)

Gas tertawa juga tidak menimbulkan efek samping pada pasien.

Suara.com - Gas tertawa atau dinitrogen oksida dapat menimbulkan perasaan euforia, dan sudah digunakan dalam dunia medis untuk membuat pasien nyaman atau rileks saat menjalani tindakan medis.

Kini peneliti menemukan bahwa senyawa kimia ini dapat meredakan depresi pada pasien yang resisten terhadap pengobatan lain.

Peneliti menemukan, peserta dalam uji klinis yang menderita depresi tahap awal mengalami gejala yang lebih ringan setelah dua minggu menghirup campuran gas tertawa dan oksigen selama satu jam, lapor Live Science.

Selain itu, studi ini juga menunjukkan bahwa gas tawa tidak menimbulkan efek apa pun pada peserta studi apabila diberikan dalam jumlah sedang.

Baca Juga: Pemuda Magetan Nekat Bunuh Diri Diduga Depresi Tak Bisa Kuliah

"Ketika menerima 25 persen dinitrogen oksida, tidak ada yang mengalami mual. Dan dosis yang lebih rendah itu sama efektifnya dengan dosis yang lebih tinggi untuk menghilangkan depresi," ujar penulis senior Charles R. Conway, profesor psikiatri di Universitas Washington di St. Louis.

Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi tertawa. (Sumber: Shutterstock)

Setelah perawatan, 55 persen peserta yang menyelesaikan studi mengalami peningkatan secara statistik, setidaknya setengah dari gejala depresi mereka, dan 40 persen mengalami remisi jangka pendek.

Selesai penelitian, 85 persen dari peserta yang menyelesaikan studi mengalami kondisi yang lebih baik. Depresi mereka berpindah dari satu kategori ke kategori lainnya, seperti dari depresi berat ke sedang

"Peningkatan pesat pada banyak pasien seperti itu dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dinitrogen oksida dapat membantu orang yang didiagnosis depresi parah dan resisten (terhadap obat)," sambungnya.

Para pasien dalam penelitian ini telah mencoba rata-rata 4,5 antidepresan yang berbeda dan mengalami depresi rata-rata selama 17,5 tahun.

Baca Juga: 5 Langkah Menjadi Sahabat bagi Mereka yang Sedang Mengalami Depresi

Selama ini, ada pengobatan alternatif bagi penderita depresi berat yang resisten terhadap pengobatan. Pengobatannya termasuk stimulasi otak dalam dan stimulasi saraf vagal.

"Kami tentu membutuhkan lebih banyak, dan yang lebih mudah diakses untuk kondisi ini. Perawatan apa pun yang menjanjikan untuk mengatasi masalah ini tentu patut diperhatikan," ujar Timothy Sullivan, ketua psikiatri dan ilmu perilaku di Staten Island University Hospital di New York City, yang tidak terlibat dalam studi baru ini.

Sebagai langkah selanjutnya, para peneliti ingin mempelajari gas tertawa, esketamin, dan plasebo dalam uji coba multisenter yang lebih besar.

Komentar