alexametrics

Sebut Varian Baru Corona Mungkin Hilangkan Efek Vaksin, Ini Jawaban Dokter Paru

Risna Halidi
Sebut Varian Baru Corona Mungkin Hilangkan Efek Vaksin, Ini Jawaban Dokter Paru
Ilustrasi Pasien Covid-19. (Pexels)

Dalam point keempat, lima organisasi profesi menulis agar semua pihak lebih waspada terhadap varian baru COVID-19 yang mungkin dapat menghilangkan efek vaksin.

Suara.com - Angka infeksi COVID-19 di Indonesia kembali meningkat sangat cepat. Menanggapi kejadian tersebut, lima organiasi profesi dokter memberikan penyataan berupa dorongan dan rekomendasi kepada pemerintah.

Lima organisasi tersebut adalah IDAI, PAPDI, PDPI, PERKI dan PERDATIN.

Dalam point keempat, lima organisasi profesi tersebut meminta agar semua pihak lebih waspada terhadap varian baru COVID-19 yang lebih mudah menyebar, mungkin lebih memperberat gejala, mungkin lebih meningkatkan kematian dan mungkin menghilangkan efek vaksin.

Saat ditanya lebih lanjut mengenai pemilihan kata 'mungkin' dalam pernyataan resmi rekomendasi kepada pemerintah, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia - Agus Dwi Susanto punya jawabannya.

Baca Juga: Bolehkah Suntik Vitamin C dan Vaksin Covid-19 Dalam Satu Hari Bersamaan? Ini Kata Dokter

Kata dokter Agus, ia dan rekan-rekan sesama dokter sepakat bahwa varian baru virus corona terutama varian Delta mampu menyebar lebih cepat. Hal tersebut bahkan sudah terbukti melalui serangkaian penelitian di luar negeri.

Sementara untuk kemungkinan varian baru dapat memperberat gejala, meningkatkan angka kematian dan menghilangkan efek vaksin, kata dokter Agus, masih sebatas teori.

"Kemungkinan dia (varian baru) berpotensi memberikan dampak beratnya penyakit dan efikasi vaksin, ini masih dalam tahap riset dan belum ada data yang cukup kuat. Tapi tentunya kami sepakat, varian baru bisa saja, mungkin, menurunkan kualitas vaksin karena melihat eskalasi kasus yang makin tinggi," tambah dokter Agus kepada Suara.com, Jumat (18/6/2021).

Di sisi lain, ia juga menyoroti minimnya genome sequencing untuk melihat asal mula dan varian virus corona yang menyebar di Indonesia.

"Seperti yang dikatakan dokter Aman (ketua IDAI), genomic sequencing di Indonesia tak rutin dilakukan. Padalah harusnya ketika terjadi satu kasus, dilakukan genomic sequencing."

Baca Juga: Mitos, Ahli Buktikan Vaksin Covid-19 Tak Rusak Kualitas Sperma!

Dengan genomic sequencing yang rutin dilakukan, ia dan rekan sesama dokter berharap dapat tersedianya data mengenai varian apa yang paling menginfeksi pasien COVID-19 di Indonesia.

Komentar