alexametrics

Bencana Terburuk, Kematian Akibat Covid-19 India 10 Kali Lebih Tinggi dari yang Tercatat

Bimo Aria Fundrika
Bencana Terburuk, Kematian Akibat Covid-19 India 10 Kali Lebih Tinggi dari yang Tercatat
Seorang perempuan menangis saat proses kremasi suaminya di sebuah krematorium di New Delhi, India, Rabu (5/5/2021) / [Antara - REUTERS/Adnan Abidi/hp/cfo (REUTERS/ADNAN ABIDI) ]

Saat ini jumlah kematian akibat Covid-19 resmi India lebih dari 414.000 adalah yang tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat 609.000 kematian dan Brasil 542.000.

Suara.com - Jumlah kematian akibat Covid-19 di India mencapai 10 kali lebih tinggi dari hampir 415.000 kematian yang dilaporkan oleh pihak berwenang.

Peristiwa itu kemungkinan menjadikannya bencana kemanusiaan terburuk di negara itu sejak kemerdekaan.

Dilansir dari France24, riset yang dilakukan The Center for Global Development memperkirakan bahwa kematian ini merupakan yang tertinggi yang muncul dari gelombang dahsyat yang sebagian dipicu oleh varian Delta pada bulan April dan Mei.

Studi yang menganalisis data dari awal pandemi hingga Juni tahun ini menunjukkan bahwa antara 3,4 juta dan 4,7 juta orang telah meninggal akibat virus tersebut.

Baca Juga: Geliat Pertanian Perkotaan di Tengah Pandemi Covid-19

"Kematian yang sebenarnya mungkin dalam beberapa juta, bukan ratusan ribu, membuat ini bisa dibilang sebagai tragedi kemanusiaan terburuk di India sejak pemisahan dan kemerdekaan," kata para peneliti.

Jenazah Covid-19 di India. (Instagram @untoldmovement)
Jenazah Covid-19 di India. (Instagram @untoldmovement)

Hingga saat ini jumlah kematian resmi India lebih dari 414.000 adalah yang tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat 609.000 kematian dan Brasil 542.000.

Para ahli telah meragukan jumlah korban India selama berbulan-bulan, yang diduga karena layanan kesehatan yang tertekan daripada kesalahan informasi yang disengaja.

Beberapa negara bagian India telah merevisi jumlah korban akibat Covid-19 mereka dalam beberapa pekan terakhir, dan menambahkan ribuan kematian dalam daftar tersebut.

Laporan pusat tersebut didasarkan pada perkiraan "kematian berlebih", jumlah orang tambahan yang meninggal dibandingkan dengan angka sebelum krisis.

Baca Juga: Sempat Klaim Bebas Covid-19, Kini Covid-19 Varian Delta Dilaporkan terjang China

Para penulis - termasuk Arvind Subramanian, mantan kepala penasihat ekonomi pemerintah - melakukan ini sebagian dengan menganalisis pendaftaran kematian di beberapa negara bagian serta studi ekonomi nasional yang berulang.