Pandemi COVID-19 Bikin Pasien TBC dan HIV Meninggal Lebih Banyak

M. Reza Sulaiman Suara.Com
Rabu, 08 September 2021 | 17:13 WIB
Pandemi COVID-19 Bikin Pasien TBC dan HIV Meninggal Lebih Banyak
Ilustrasi Pandemi Covid-19 (pexels)

Suara.com - Pandemi COVID-19 diketahui memperburuk penanganan sejumlah penyakit menular, termasuk tuberkulosis (TBC) dan HIV.

Pesan terkait kematian pasien TBC dan HIV dilontarkan oleh Lembaga Bantuan Dana Internasional (IMF), yang menyebut tumbangnya sistem perawatan kesehatan di negara miskin menjadi penyebabnya.

Di beberapa negara termiskin di dunia, kematian yang begitu banyak akibat AIDS dan tuberkulosis (TB) bahkan bisa melebihi kematian akibat virus corona itu sendiri, kata kepala badan bantuan yang berbasis di Jenewa itu.

Laporan tahunan IMF untuk 2020 yang dirilis pada Rabu, menunjukkan bahwa, di negara-negara tempat lembaga keuangan itu beroperasi, jumlah orang yang dirawat karena TB yang resistan terhadap obat turun 19 persen.

Ilustrasi tuberkulosis. (Shutterstock)
Ilustrasi tuberkulosis (TBC). (Shutterstock)

Penurunan sebesar 11 persen dilaporkan dalam program dan layanan pencegahan HIV.

"Pada dasarnya, ada sekitar kurang dari satu juta orang yang dirawat karena TB pada 2020 dibandingkan pada 2019 dan saya khawatir itu bisa berarti bahwa ratusan ribu orang akan meninggal," Direktur Eksekutif Peter Sands, dilansir ANTARA.

Sementara jumlah kematian yang tepat belum diketahui, Sands mengatakan bahwa untuk beberapa negara miskin, seperti bagian dari wilayah Sahel di Afrika, kematian yang begitu banyak akibat kemunduran dalam memerangi penyakit seperti TB atau AIDS mungkin terbukti lebih tinggi daripada akibat COVID-19 itu sendiri.

Global Fund adalah aliansi pemerintah, masyarakat sipil, dan mitra sektor swasta yang menginvestasikan lebih dari empat miliar dolar AS (sekitar Rp56,9 triliun) per tahun untuk memerangi tuberkulosis, malaria, dan AIDS. Amerika Serikat adalah donor utamanya.

Sands mengatakan layanan terpengaruh oleh penguncian COVID-19 sementara klinik, staf, dan diagnostik yang biasanya digunakan untuk TB, malah dikerahkan untuk COVID-19 di negara-negara seperti India dan di seluruh Afrika.

Baca Juga: Cerita Pilu Tamara Si Manusia Silver, Cari Uang di Jalanan usai Dipecat Gara-gara Covid-19

Dia menambahkan bahwa dia memperkirakan gangguan akan terjadi lebih lanjut tahun ini karena varian Delta.

Dia mengatakan penurunan pengobatan untuk penyakit lain menggarisbawahi perlunya melihat dampak total COVID-19 dan mengukur keberhasilan dalam memeranginya.

"Tidak hanya dengan penurunan jumlah kematian akibat COVID-19 itu sendiri tetapi juga dampak yang ditimbulkan," tuturnya. [ANTARA]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI