alexametrics

Bukan Cuma Fisik, Anak Yang Aktif Olahraga Ternyata Juga Kurangi Risiko Gangguan Jiwa

Bimo Aria Fundrika | Aflaha Rizal Bahtiar
Bukan Cuma Fisik, Anak Yang Aktif Olahraga Ternyata Juga Kurangi Risiko Gangguan Jiwa
anak aktivitas fisik.

Anak laki-laki yang aktif secara fisik pada masa remaja awal dapat mengurangi tekanan emosional.

Suara.com - Anak yang aktif ikut kegiatan olahraga bukan cuma baik bagi kesehatan fisiknya, tapi juga  mampu menurunkan risiko penyakit gangguan jiwa. Hal ini terungkap lewat studi yang dipimpin oleh Psiko Edukator Université de Montréal Marie-Josée Harbec.

Studi yang terbit di Journal Of Developmental & Behavioral Pediatrics ini, mengatakan bahwa anak laki-laki yang aktif secara fisik pada masa remaja awal dapat mengurangi tekanan emosional. 

“Kami ingin mengklarifikasi hubungan timbal balik jangka panjang pada anak usia sekolah, dengan partisipasi olahraga yang dapat menurunkan gejala depresi hingga kecemasan,” ungkap mahasiswa doktoral UdeM Linda Pagani.

“Kami juga ingin memeriksa apakah hubungan ini bekerja secara berbeda, pada anak laki-laki dan perempuan berusia 5-12 tahun,” ungkap Harbec, rekan studi dari rumah sakit anak CHU Ste-Justine.

Ilustrasi anak-anak bermain. (Foto: shutterstock)
Ilustrasi anak-anak bermain. (Foto: shutterstock)

Harbec menambahkan, ada bukti luas pada aktivitas fisik pada masa anak-anak, di mana ini dapat berimplikasi pada kesehatan mental serta fisik mereka.

Selain itu, para peneliti juga meneliti kebiasaan olahraga dan aktivitas fisik yang dilaporkan oleh anak berusia 5-12 tahun. Serta orangtua mereka yang melihat gejala tekanan emosional anak dari usia 6-19 tahun, yang dilaporkan oleh guru mereka.

“Kami menemukan bahwa laki-laki berusia 5 tahun yang tidak pernah berolahraga, mungkin di usia 6-10 tahun, terlihat tidak bahagia dan lelah. Dan sulit mengalami bersenang-senang, mudah menangis, dan mengalami rasa takut,” ungkap Pagani.

“Selain itu, anak laki-laki menunjukkan tingkat gejala dan depresi lebih tinggi ketika kurang aktif secara fisik pada usia 12 tahun. Tapi untuk anak perempuan, kami tidak menemukan perubahan yang signifikan,” ungkap Pagani lebih lanjut.

Di samping itu, survei ini dilakukan pada orangtua dari 690 anak laki-laki dan 748 anak perempuan, di mana survei ini telah diamati para peneliti tahun lalu lewat aktivitas fisik anak. Data ini dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, untuk mengidentifikasi hubungan antara aktivitas fisik dan tekanan emosional.

“Tujuan kami adalah untuk menghilangkan kondisi anak dan keluarga yang sudah ada sebelumnya, yang dapat memberikan gambaran berbeda pada hasil kami. Seperti temperamen anak, pendidikan orangtua, serta pendapatan keluarga,” ucap Pagani.

Komentar