Peneliti Meracik Antivenom Ular Berbisa dari Antibodi Unta, Diklaim Lebih Baik

Cesar Uji Tawakal, Rosiana Chozanah

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:10 WIB
Peneliti Meracik Antivenom Ular Berbisa dari Antibodi Unta, Diklaim Lebih Baik
Ilustrasi tangan terluka karena gigitan ular berbisa. (Shutterstock)

Suara.com - Kepala Pusat Penelitian dan Intervensi Gigitan Ular Liverpool School of Tropical Medicine (LSTM), Inggris, Robert Harrison mengatakan antara 81.000 hingga 138.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat gigitan ular.

Sementara 400.000 orang menderita luka parah, yang bisa mengakibatkan amputasi, hilangnya penglihatan, hingga borok terbuka yang tidak pernah sembuh. Sebagian besar korban ini berada di pedesaan.

Namun, perawatan terbaik untuk gigitan ular hanya mengobati beberapa kasus dari 250 jenis ular berbisa.

Apabila ada alternatif pengobatan yang dapat dijangkau secara global, maka akan sangat membantu dalam hal perawatan.

Tetapi, antivenom atau antibisa ular juga harus bisa dijangkau oleh fasilitas kesehatan dengan sumber daya rendah.

"Seperti kebanyakan antivenom, perawatan antibodi memerlukan rantai dingin, dan itulah penghalang untuk membawa perawatan ini ke masyarakat yang membutuhkannya," ujar Harrison kepada Telegraph UK.

Ilustrasi ular berbisa. (Pixabay/ Ian Lindsay)
Ilustrasi ular berbisa. (Pixabay/ Ian Lindsay)

Rantai dingin atau cold chain merupajan proses penjagaan agar suhu obat berada di kondisi idealnya, sehingga kualitas tetap terjaga.

Mencoba mengatasi masalah ini, Harrison melakukan penelitian terhadap antibodi unta untuk dijadikan penawar bisa, menetralkan racun ular berbisa dominan di Afrika dan Asia.

"Kami pikir kami punya jawaban untuk itu, yakni antibodi unta. Antibodi unta memiliki kemampuan luar biasa untuk tidak terpengaruh panas, sehingga dapat menyimpannya di suhu kamar," sambung Harrison.

baca juga

Selama ini, cara pembuatan antivenom adalah dengan menyuntikkan sedikit racun ke kuda atau domba.

Kemudian darah hewan yang telah mengandung antibodi racun ular dikeluarkan. Antibodi itu dimurnikan di laboratorium dan menjadi dasar antivenom yang akan diberikan ke manusia.

Kali ini, Harrison dan timnya mengganti kuda atau domna dengan unta.

"Kami mengarahkan semuanya ke domain antibodi unta, dengan harapan kami dapat menyimpannya sebagai produk cair, tetapi dengan cata yang tidak memerlukan rantai dingin," imbuh Harrison.

Harrison mengklaim antibodi unta tetap stabil terhadap panas dan bisa sama efektifnya dengan pengobatan antivenom ular saat ini.

"Dalam beberapa kasus, justru jauh lebih efektif," klaimnya.

Tetapi, antivenom antibodi monoklonal seperti ini membutuhkan setidaknuya lima tahun untuk tersedia.

Sebab, formulanya perlu disempurnakan, ditambah uji praklinis di laboratorium, lalu uji coba konvensional pada manusia.

"Jadi perbedaan yang akan dibuat ini sebenarnya untuk masalah pengiriman. Kami ingin mengembangkan perawatan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki masa simpan lama dan tahan panas," tandas Harrison.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Antisipasi Serangan Ular, Dinkes Sleman Sedia Serum Antibisa di Puskesmas

Antisipasi Serangan Ular, Dinkes Sleman Sedia Serum Antibisa di Puskesmas

Health | Rabu, 08 Januari 2020 | 16:56 WIB

Fenomena Ular Kobra, Menkes Terawan Petakan Serum Antibisa di RS Daerah

Fenomena Ular Kobra, Menkes Terawan Petakan Serum Antibisa di RS Daerah

Video | Jum'at, 27 Desember 2019 | 10:30 WIB

Ramai Serangan Ular, Menkes Terawan Bicara Ketersediaan Antibisa Ular

Ramai Serangan Ular, Menkes Terawan Bicara Ketersediaan Antibisa Ular

Health | Jum'at, 27 Desember 2019 | 01:05 WIB

Terkini

Perawatan Ibu Hamil Tak Cuma Soal Fisik, Kesehatan Mental Juga Perlu Dijaga

Perawatan Ibu Hamil Tak Cuma Soal Fisik, Kesehatan Mental Juga Perlu Dijaga

Health | Sabtu, 26 September 2026 | 04:03 WIB

6 Perbedaan Night Cream dan Sleeping Mask, Apakah Harus Dipakai Dua-duanya?

6 Perbedaan Night Cream dan Sleeping Mask, Apakah Harus Dipakai Dua-duanya?

Lifestyle | Jum'at, 25 September 2026 | 23:39 WIB

Day Trading Bukan Sekadar Kejar Cuan, Risiko Justru Jadi Kunci

Day Trading Bukan Sekadar Kejar Cuan, Risiko Justru Jadi Kunci

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 23:30 WIB

Dituduh Huni 'Rumah Khusus' di Lapas Cibinong, Pengacara Ferdy Sambo Buka Suara

Dituduh Huni 'Rumah Khusus' di Lapas Cibinong, Pengacara Ferdy Sambo Buka Suara

Bogor | Jum'at, 25 September 2026 | 23:14 WIB

DPRD Banten Soroti Tukin Kepala Sekolah SMA dan SMK Rp14,5 Juta, Minta Dievaluasi

DPRD Banten Soroti Tukin Kepala Sekolah SMA dan SMK Rp14,5 Juta, Minta Dievaluasi

Banten | Jum'at, 25 September 2026 | 22:55 WIB

Ponaryo Astaman Prediksi FIFA ASEAN Cup 2026 Bakal Berlangsung Ketat

Ponaryo Astaman Prediksi FIFA ASEAN Cup 2026 Bakal Berlangsung Ketat

Jabar | Jum'at, 25 September 2026 | 22:35 WIB

Ferdy Sambo Buka Suara soal Sel Mewah di Lapas Cibinong

Ferdy Sambo Buka Suara soal Sel Mewah di Lapas Cibinong

News | Jum'at, 25 September 2026 | 22:33 WIB

Finex Perluas Pembayaran Lokal, QRIS Jadi Andalan Trader

Finex Perluas Pembayaran Lokal, QRIS Jadi Andalan Trader

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 22:30 WIB

Bukan Cuma Alat Bayar, BRIZZI Keychain Pestapora 2026 Wajib Masuk Wishlist Koleksi!

Bukan Cuma Alat Bayar, BRIZZI Keychain Pestapora 2026 Wajib Masuk Wishlist Koleksi!

Bri | Jum'at, 25 September 2026 | 22:27 WIB

Pakar Hukum Desak Pembebasan Bersyarat Mas Bechi Dicabut

Pakar Hukum Desak Pembebasan Bersyarat Mas Bechi Dicabut

News | Jum'at, 25 September 2026 | 22:25 WIB

×