Ternyata Fobia Bisa Turun-temurun di Keluarga, Begini Penjelasannya

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah | Suara.com

Selasa, 19 Oktober 2021 | 12:42 WIB
Ternyata Fobia Bisa Turun-temurun di Keluarga, Begini Penjelasannya
Ilustrasi fobia (Shutterstock)

Suara.com - Fobia merupakan ketakutan ekstrem yang membuat pengidapnya tidak bisa berfungsi secara normal. Ketakutan ini bisa muncul akibat trauma negatif, tetapi karena terlalu parah dan sering tidak rasional, fobia bisa melumpuhkan.

Sebenarnya, menurut Very Well Mind, penyebab fobia belum dipahami secara luas. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa genetik kemungkinan dapat berpengaruh.

Sebuah studi menunjukkan bahwa anak kembar yang dibesarkan secara terpisah berisiko tinggi memiliki fobia serupa.

Sementara itu, peneliti menemukan bahwa apabila keluarga tingkat pertama mengidap fobia, maka keturunannya bisa hingga tiga kali lebih mungkin mengembangkan fobia juga.

Pusat Penelitian Primata Nasional Yerkes di Universitas Emory juga pernah melakukan studi terhadap tikus dengan membuat mereka fobia terhadap bau bunga sakura. Ketakutan itu diinduksi kejutan listrik, membuat tikus enggan membaui aroma bunga.

Ilustrasi fobia ketinggian. (Shutterstock)
Ilustrasi fobia ketinggian. (Shutterstock)

Hal yang mengejutkan peneliti adalah kuturunan-keturunan tikus tersebut juga menjadi punya kondisi yang sama dengan induk mereka. Tidak sampai di sini, cucu-cucu tikud tersebut juga memiliki fobia yang sama.

Menurut peneliti, dilansir Spirituality & Health, ini adalah contoh dari epigenesis, yakni perubahan gen akibat efek bahan kimia atau faktor selain perubahan kode genetik itu sendiri.

Epigenesis menunjukkan bahwa gen merespon stresor dari lingkungan. Dengan mengubah aktivitas gen, kemudian stresor ini memengaruhi cara kita memahami rangsangan dari lingkungan dan bagaimana cara meresponnya.

Paparan berulang terhadap rangsangan negatif dari lingkungan dapat membuat ketakutan itu permanen, langsung menghubungkan ke otak. Setelah perubahan menjadi bagian dari susunan genetik, maka akan bisa diturunkan ke generasi berikutnya.

Warisan sifat-sifat ini telah dibuktikan dalam sejumlah penelitian tentang orang-orang yang trauma oleh perang, kelaparan, dan keadaan buruk lainnya.

Dampak emosional serta psikologis dari trauma tersebut juga terlihat pada keturunan para korban ini, bahkan pada generasi yang lahir jauh setelah peristiwa traumatis tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi: Pemilih Makanan Punya Fobia Sosial yang Lebih Besar dari Orang Biasanya

Studi: Pemilih Makanan Punya Fobia Sosial yang Lebih Besar dari Orang Biasanya

Health | Kamis, 07 Oktober 2021 | 16:19 WIB

Kisah Lelaki Fobia Jarum Suntik, Akui Lemas Hingga Mau Pingsan Saat Divaksinasi Covid-19

Kisah Lelaki Fobia Jarum Suntik, Akui Lemas Hingga Mau Pingsan Saat Divaksinasi Covid-19

Lifestyle | Selasa, 07 September 2021 | 12:13 WIB

Tips Agar Tidak Fobia Mengerjakan Skripsi

Tips Agar Tidak Fobia Mengerjakan Skripsi

Your Say | Sabtu, 24 Juli 2021 | 19:06 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB