alexametrics

Mix and Match Vaksin Covid-19 Dinilai Aman dan Efektif, Begini Datanya Berdasarkan Studi

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Mix and Match Vaksin Covid-19 Dinilai Aman dan Efektif, Begini Datanya Berdasarkan Studi
Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Pixabay)

BPOM AS telah mengizinkan pemberian booster mix and match vaksin Covid-19.

Suara.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengizinkan penggunaan vaksin Covid-19 berbeda sebagai penguat atau booster sejak Rabu (20/10/2021) kemarin.

Artinya, seseorang bisa menerima booster Moderna meski pada awalnya orang tersebut mendapat Johnson & Johnson.

Studi dan data empiris menunjukkan pendekatan vaksinasi 'mix and match' ini aman. Bahkan, dalam beberapa kasus bisa lebih efektif dibanding satu jenis suntikan vaksin saja.

Pengumuman FDA ini menyusul studi awal National Institutes of Health (NIH) yang sedang berlangsung, lapor Live Science.

Baca Juga: Info Vaksin Surabaya 22 Oktober 2021 di 10 Tempat, Ada Gerakan Vaksinasi Massal

Pada 15 Oktober lalu, sekelompok peneliti mempresentasikan hasil studi awal mereka yang diunggah ke medRxiv, tetapi belum ditinjau sejawat.

Para peneliti menguji sembilan kombinasi berbeda dari vaksin Johnson & Johnson, Moderna dan Pfizer, yang diberikan kepada 458 peserta. Mereka menemukan pencampuran itu aman dan sangat efektif.

Data hasil studi NIH (LiveScience)
Data hasil studi NIH (LiveScience)

Menerima booster dapat meningkatkan jumlah sirkulasi antibodi penetral, termasuk antibodi.

Data Empiris

Beberapa negara telah melakukan mix and match vaksin, salah satunya Turki, dan hal in bisa menjadi data empiris tambahan.

Baca Juga: Indonesia Dapat 698.090 Dosis Vaksin AstraZeneca dan Beli 1,2 Juta Dosis Pfizer

Turki telah memvaksinasi orang-orang yang awalnya menerima vaksin Covid-19 Sinovac dengan booster Pfizer.

Inggris dan Kanada juga telah melakukan pencampuran vaksin AstraZeneca dengan Pfizer, yang menunjukkan bahwa cara pencampuran dan pencocokan booster ini aman serta efektif.

Efek samping yang ditunjukkan juga tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada vaksinasi awal.

"Apa yang kita lihat pada dasarnya adalah jenis (reaksi merugikan) yang sama dengan kita lihat pada dosis pertama dan kedua dari vaksin ini. Tetapi tidak ada yang lebih buruk atau menakutkan. Bukti menunjukkan ini cukup aman," kata dokter penyakit menular, Carlos Malvestutto, di The Ohio State University Wexner Medical Center.

Beberapa bukti juga menunjukkan bahwa pencampuran serta pencocokan vaksin ini dapat menyebabkan respons imun yang lebih luas, yang kemungkinan lebih mampu merespons varian SARS-CoV-2 lain di masa depan.

Tetapi, Malvestutto mengatakan ada hal lain yang seharusnya juga diperhatikan selain antibodi, yakni apa yang dikenal sebagai sel memori.

Sel ini bersirkulasi dalam tubuh dalam waktu lama setelah tingkat antibodi penetral habis. Selain itu, sel ini juga mendorong sistem kekebalan untuk membuat antibodi yang lebih spesifik setelah terpapar patogen.

"Bagaimana pun, data menunjukkan bahwa pencampuran dan pencocokan ini aman dan efektif. Tetapi pesan paling pentingnya adalah agar orang menyelesaikan vaksinasi awal, dan jika termasuk dalam kelompok berisiko tinggi, bisa mendapatkan booster," tandasnya.

Komentar