alexametrics

Virus Corona Ngamuk, Peneliti Inggris Teliti Sub-Varian Delta

Bimo Aria Fundrika
Virus Corona Ngamuk, Peneliti Inggris Teliti Sub-Varian Delta
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Dok. Envato)

Mereka mengatakan bahwa diperlukan lebih banyak bukti untuk mengetahui apakah ini karena perubahan perilaku virus atau kondisi epidemiologis.

Suara.com - Para peneliti dan otoritas kesehatan Inggris secara resmi mengatkaan bahwa akan mencari subvarian dari strain varian Delta virus corona. Langkah tersebut dilakukan setelah terlihat pada semakin banyak kasus.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA), sebuah badan perlindungan kesehatan masyarakat, mengatakan AY.4.2, yang pekan lalu terlihat pada enam persen kasus, telah "ditunjuk sebagai varian yang sedang diselidiki" tetapi belum menjadi "varian yang menjadi perhatian". Demikian seperti dilansir dari France24. 

"Penunjukan itu dibuat atas dasar bahwa sub-garis keturunan ini telah menjadi semakin umum di Inggris dalam beberapa bulan terakhir, dan ada beberapa bukti awal bahwa itu mungkin memiliki tingkat pertumbuhan yang meningkat di Inggris dibandingkan dengan Delta," kata badan tersebut.

Mereka mengatakan bahwa diperlukan lebih banyak bukti untuk mengetahui apakah ini karena perubahan perilaku virus atau kondisi epidemiologis.

Baca Juga: Indonesia Dinilai Mampu Sediakan Pangan Saat Pandemi, FAO Berikan Apresiasi

Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Dok. Envato)
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Dok. Envato)

UKHA mengatakan varian Delta "sangat dominan" di Inggris, terhitung 99,8 persen dari semua kasus.

Tetapi pada 20 Oktober, ada 15.120 kasus subvarian AY.4.2, yang pertama kali terdeteksi pada Juli, ketika pembatasan virus corona dicabut di seluruh negeri.

"Sementara bukti masih muncul, sejauh ini tampaknya varian ini tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah atau membuat vaksin yang saat ini digunakan menjadi kurang efektif," tambah UKHA.

Inggris saat ini berjuang melawan tingkat infeksi tertinggi kedua di dunia, di belakang Amerika Serikat, dengan lebih dari 50.000 kasus tercatat pada Kamis - tertinggi sejak Juli.

Pada hari Jumat, hampir 50.000 kasus baru ditambahkan, dan 180 kematian dalam 28 hari setelah tes positif, menjadikan korban keseluruhan sejak awal wabah menjadi 139.326.

Baca Juga: 16 Kontrak Kerja Sama SKK Migas Berhasil Lampaui Target Lifting Migas

Tingkat infeksi yang tinggi di antara anak-anak usia sekolah dikatakan bertanggung jawab atas melonjaknya angka tersebut, dan telah mendorong seruan untuk beberapa langkah darurat untuk diperkenalkan kembali.

Komentar