Array

Vaksin Dua Kali Kini Sudah Tak Relevan untuk Cegah COVID-19

Liberty Jemadu Suara.Com
Senin, 22 November 2021 | 22:21 WIB
Vaksin Dua Kali Kini Sudah Tak Relevan untuk Cegah COVID-19
Komisaris PT Jasa Raharja, Rimawan Pradiptyo meninjau vaksinasi di Pandak, Bantul untuk pelajar, orang tua pelajar serta warga yang belum tervaksinasi, Rabu (27/10/2021).

Suara.com - Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman vaksinasi COVID-19 dosis lengkap dengan dua kali suntikan sudah tidak relevan lagi jika dikaitkan dengan riset yang ada saat ini.

Dicky dalam diskusi daring bertajuk Menangkal Gelombang Ketiga COVID-19 di Indonesia yang diselenggarakan Media Indonesia dan dipantau Antara di Jakarta, Senin (22/11/2021) mengatakan bahwa pencegahan maksimal terhadap penyakit COVID-19 adalah dengan tiga dosis vaksinasi.

Dia menerangkan bahwa alasan diperlukannya suntikan atau dosis ketiga untuk pencegahan dari COVID-19 dikarenakan penelitian yang mengungkap bahwa sistem imunitas yang menurun dalam kurun waktu enam bulan setelah disuntikkan dua dosis vaksinasi.

"Bicara konteks sekarang dengan varian baru, menurunnya imunitas, yang disebut vaksinasi penduduk itu bukan dua kali suntik, harus tiga kali suntik. Jadi definisi vaksinasi penuh itu bukan dua kali suntik, itu sudah tidak relevan dengan riset saat ini," kata Dicky.

Dicky menyebut cakupan vaksinasi di Indonesia saat ini masih jauh dari target untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

"Yang disebut cakupan 90 persen, 85 persen, 80 persen itu yang tiga kali suntik. Artinya masih jauh, karena sekarang yang dosis dua kali pun masih mengarah 50 persen, artinya perjalanan masih panjang," katanya.

Selain dari vaksinasi, imunitas terhadap COVID-19 juga bisa didapatkan secara alami dikarenakan adanya infeksi yang terjadi di masyarakat. Dicky mengatakan bahwa imunitas yang didapatkan dari vaksinasi dan yang muncul secara alami dari para penyintas COVID-19 masih belum cukup untuk membentuk kekebalan kelompok.

Terlebih lagi, kata Dicky, kekebalan yang ditimbulkan secara alami karena adanya infeksi juga lebih rendah dibandingkan dengan kekebalan yang didapatkan dari vaksinasi.

"Memang lama proteksinya sama, kurang lebih enam bulan, tapi respon imunitas yang timbul dari orang yang terinfeksi jauh lebih lemah dibandingkan hasil vaksinasi," kata Dicky. [Antara]

Baca Juga: Vaksin Booster Covid-19 Bakal Disuntikkan Setiap Tahun? Satgas IDI Beri Penjelasan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI