alexametrics

Survei: Banyak Remaja Jadikan Konten Porno untuk Pelajari Seksualitas

Bimo Aria Fundrika
Survei: Banyak Remaja Jadikan Konten Porno untuk Pelajari Seksualitas
Ilustrasi nonton film porno. (Shutterstock)

Jika ada anggapan pendidikan seks bisa mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks, ternyata temuan survei tersebut malah menunjukan yang sebaliknya.

Suara.com - Survei terbaru tunjukan banyak remaja menjadikan konten porno sebagai cara untuk mempelajari seksualitas. Hal ini menandakan pentingnya pendidikan seks pada remaja.

Jika ada anggapan pendidikan seks bisa mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks, ternyata temuan survei tersebut malah menunjukan yang sebaliknya.

Hal ini dijabarkan Co-Founder dan Chief Editor Magdalene, Devi Asmarani saat menyampaikan hasil survei terhadap 400 remaja, yang sebagian besar masih duduk di kursi SMA.

"Dari situ temuan utamanya hampir 100 persen responden mengatakan bahwa pendidikan seks diperlukan," ujar Devi dalam acara diskusi Campaign.com, Rabu (1/12/2021).

Baca Juga: Sakit Hati Lamaran Ditolak, Pria di Sumsel Sebar Video Porno Pacar

Ilustrasi menonton film porno [Shutterstock]
Ilustrasi menonton film porno [Shutterstock]

Bahkan Devi juga menemukan, meski para remaja ini sebagian sudah ada yang mendapatkan pendidikan seks di sekolah, namun nyaris 100 persen remaja mengatakan bahwa hal tersebut belum mencukupi.

Selain itu, diakui jika banyak remaja yang menggunakan konten porno untuk mempelajari seksualitas.

Menariknya, para remaja ini juga mengatakan sangat membutuhkan pendidikan seks, meskipun belum ada keinginan melakukan hubungan seks.

"Ini mematahkan anggapan bahwa pendidikan seks kepada anak-anak, akan membuat anak langsung melakukan seks bebas," tutur Devi.

Sayangnya, survei ini belum dipublikasi untuk publik dan baru akan diterbitkan di website Magdalene pada 12 Desember 2021 mendatang.

Baca Juga: Terungkap Penyebar Video Syur 12 Detik di Palembang, Mantan Pacar yang Sakit Hati

Selain itu Devi juga mengungkap fakta, masih banyak ditemui ketimpangan pendidikan seks di Indonesia, lantaran di berbagai daerah masih dianggap tabu untuk dibicarakan.

"Materi yang fokus pada seksualitas, consent, dan isu lain, seperti relasi gender masih sangat minim karena di level penentu kebijakan belum ada keberanian untuk menerapkan kurikulum formal pendidikan seksualitas yang komprehensif, mengingat masih tingginya persepsi yang mengaitkan seksualitas dengan moralitas," pungkas Devi.

Komentar