alexametrics

Dokter Temukan Antibodi Virus Corona Bertahan Dalam ASI selama 10 Bulan

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Dokter Temukan Antibodi Virus Corona Bertahan Dalam ASI selama 10 Bulan
Ilustrasi menyusui, ASI (Elements Envato)

Dokter menemukan bahwa ibu menyusui yang pernah terinfeksi virus corona Covid-19 akan memiliki antibodi dalam ASI yang bertahan 10 bulan.

Suara.com - Antibodi virus corona Covid-19 bisa diperoleh melalui suntikan vaksin Covid-19 dan infeksi alami virus corona Covid-19.

Para ahli telah menyarankan ibu hamil dan menyusui untuk suntik vaksin Covid-19 agar mendapatkan antibodi yang bisa melindungi diri dari virus corona Covid-19. Pada akhirnya, antibodi ini juga bisa melindungi janin dan anak yang masih aktif ASI.

Rupanya, ibu hamil atau menyusui yang pernah terinfeksi virus corona Covid-19 juga bisa memiliki antibodi tersebut. Bahkan, antibodi ini akan tetap berada dalam ASI hingga 10 bulan.

Antibodi ini tidak hanya bisa melindungi bayi, tetapi juga antibodi IgG cenderung bertahan lebih lama daripada populasi umum.

Baca Juga: Siti Fadilah Blak-blakan Bongkar Virus Corona Varian Omicron: Didramatisasi

Studi yang dipimpin oleh Icahn School of Medicine di Mount Sinai Hospital di New York menunjukkan bahwa antibodi dalam ASI (Secretory Immunoglobulin A) berbeda dengan antibodi Immunoglobulin G (IgG) yang ditemukan dalam darah manusia dan dipicu oleh vaksin Covid-19.

Ilustrasi virus corona covid-19, antibodi. (Pexels/@Anna Nandhu Kumar)
Ilustrasi virus corona covid-19, antibodi. (Pexels/@Anna Nandhu Kumar)

Studi mengenai antibodi dalam ASI ini dipresentasikan pada Simposium Menyusui dan Laktasi Global ke-15 baru-baru ini.

"Sekitar 10 persen bayi akan terinfeksi virus corona dan membutuhkan perawatan medis lanjutan. Karena itu, cara melindungi mereka akan memberikan kekebalan pasif melalui ASI dari ibu yang pernah terinfeksi virus corona," kata Dr Rebecca Powell dari Departemen Kedokteran Icahn, Divisi Penyakit Menular dikutip dari Times of India.

Imunoglobulin A Sekretori (IgA) menempel pada lapisan saluran pernapasan dan usus bayi untuk membantu menghalangi virus dan bakteri memasuki tubuh mereka.

Powell percaya bahwa antibodi yang diekstraksi dari ASI ini juga bisa bersamanfaat bagi orang dewasa dengan virus corona Covid-19 yang parah.

Baca Juga: CEO Moderna Akui Vaksinnya Kurang Efektif Lawan Virus Corona Varian Omicron

"Cara ini bisa menjadi terapi virus corona yang luar biasa, karena IgA Sekretori memang berada di area mukosa ini, seperti lapisan saluran pernapasan yang bertahan dan berfungsi dengan baik," kata Powell.

Pada penelitian ini, tim mengambil sampel ASI dari 75 wanita yang pulih dari virus corona Covid-19. Mereka menemukan bahwa 88 persen mengandung IgA.

Dalam kebanyakan kasus, IgA dalam ASI ini bisa membantu mencegah infeksi virus corona Covid-19. Mereka juga menemukan bahwa wanita terus mengeluarkan antibodi ini dalam ASI sampai 10 bulan.

Selain itu, tim Powell juga menyelidiki hubungan antibodi spesifik Covid-19 dalam ASI pada 50 wanita setelah mendapatkan vaksin Covid-19 Pfizer, Moderna atau Johnson & Johnson.

Semua wanita yang mendapatkan vaksin Moderna dan 87 persen wanita yang suntik vaksin Pfizer memiliki antibodi IgG spesifik virus corona Covid-19 dalam ASI.

Sedangkan, sekitar 71 persen dan 51 persen dari masing-masing memiliki antibodi IgA spesifik virus corona.

Pada wanita yang suntik vaksin Johnson & Johnson, hanya 38 persen wanita yang memiliki antibodi IgG dan 23 persen memiliki antibodi IgA terhadap virus corona dalam ASI.

"Kami tahu bahwa tingkat antibodi yang dihasilkan oleh vaksin RNA sangat tinggi dibandingkan vaksin Covid-19 lainnya," jelasnya.

Sebenarnya, Anda tidak perlu banyak antibodi untuk melindungi Anda dari infeksi virus corona. Tapi, ASI bisa memberikan perlindungan pada anak bila memiliki banyak antibodi virus corona.

Komentar