Pakar Sebut Indonesia Surga Bagi Para Perokok, Apa Alasannya?

Bimo Aria Fundrika, Dini Afrianti Efendi

Rabu, 22 Desember 2021 | 20:21 WIB
Pakar Sebut Indonesia Surga Bagi Para Perokok, Apa Alasannya?
Ilustrasi rokok kretek. [Shutterstock]

Suara.com - Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta (ITB-AD), Dr. Mukhaer Pakkanna mengatakan Indonesia adalah surga bagi perokok

Hal ini ia kemukakan berdasarkan temuan Commission on Higher Education (CHED). Dalam temuan itu tercatat bahwa  kenaikan harga rokok di Indonesia terlalu lambat dibanding negara lain.

"Kenaikan harga rokok terlalu lambat rata-rata 10,3 persen per tahun, inilah yang disebut dengan istilah menggarami lautan (percuma atau sia-sia)," ujar Mukhaer dalam acara diskusi Mengawal Kenaikan Cukai Hasil Tembakau, Rabu (22/12/2021).

Sehingga kata Mukhaer, kenaikan harga rokok yang terkesan lambat dinilai tidak efektif untuk menurunkan prevalensi perokok di Indonesia. Alhasil, Indonesia disebut sebagai surga bagi perokok.

Guna mencegah penyebaran virus corona, pemerintah Bekasi akan meniadakan ruang rokok bersama.
Guna mencegah penyebaran virus corona, pemerintah Bekasi akan meniadakan ruang rokok bersama.

"Kita adalah surga bagi perokok, bukan neraka bagi perokok. Jadi kalau mau masuk surga ya datang ke Indonesia, bagi perokok," celetuk Mukhaer.

Alih-alih penjualan  bungkusan, justru pemasukan atau omset terbesar industri rokok, disebut Mukhaer berasal dari penjualan eceran dalam bentuk batangan.

Apalagi rokok eceran atau yang dijual per batang, membuat semakin banyak orang mudah mengakses rokok seperti orang miskin dan mirisnya anak-anak.

"Artinya yang beli eceran anak-anak, dan kedua orang miskin, jadi sumber kekayaan pengusaha nomor 1 di Indonesia yaitu dari orang miskin dan anak-anak," tutup Mukhaer.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Umum YKI, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan bahwa kenaikan cukai rokok diharapkan bisa menurunkan kejadian kanker baru karena rokok.

baca juga

“Yayasan Kanker Indonesia menyambut baik dan berterima kasih pada pemerintah RI atas rencananya menaikkan cukai rokok dalam waktu dekat. Kenaikan cukai rokok diharapkan akan menurunkan konsumsi rokok dan mengurangi potensi kejadian kanker baru yang banyak diakibatkan oleh rokok," ujar Prof. Daru dalam keterangan pers yang diterima suara.com, Jumat (17/12/201).

Potensi rokok penyebab kanker juga terekam dalam data GLOBOCAN 2020, bahwa kejadian kanker baru terus meningkat, dengan 397.000 kasus kanker. Ditambah sudah ada 235.000 kematian yang disebabkan karena kanker.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Kuat Hadapi Pandemi, Produsen E-Liquid Vape Butuh Dukungan Pemerintah

Tak Kuat Hadapi Pandemi, Produsen E-Liquid Vape Butuh Dukungan Pemerintah

Press Release | Rabu, 22 Desember 2021 | 01:45 WIB

Lagi! Ulah Pengendara yang Merokok  di Jalan Telan Korban, Warganet Dibuat Geram

Lagi! Ulah Pengendara yang Merokok di Jalan Telan Korban, Warganet Dibuat Geram

Hits | Selasa, 21 Desember 2021 | 13:16 WIB

Regulasi Tembakau Alternatif Dinilai Bantu Tekan Prevalensi Perokok

Regulasi Tembakau Alternatif Dinilai Bantu Tekan Prevalensi Perokok

Jogja | Selasa, 21 Desember 2021 | 10:56 WIB

Terkini

Rupiah Kembali Loyo Pagi Ini, Nyaris ke Level Rp18.000

Rupiah Kembali Loyo Pagi Ini, Nyaris ke Level Rp18.000

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:44 WIB

Program Pemerintah Harus Punya Umur Panjang, Bukan Sekadar Anggaran Panjang

Program Pemerintah Harus Punya Umur Panjang, Bukan Sekadar Anggaran Panjang

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:40 WIB

Industri Kretek Terancam Aturan Nikotin-TAR, 600 Ribu Pekerja SKT Jadi Taruhan

Industri Kretek Terancam Aturan Nikotin-TAR, 600 Ribu Pekerja SKT Jadi Taruhan

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:40 WIB

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasokan Timur Tengah Mulai Pulih

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasokan Timur Tengah Mulai Pulih

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:40 WIB

Timnas Indonesia Diprediksi Menang 3-0 Atas Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Timnas Indonesia Diprediksi Menang 3-0 Atas Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:37 WIB

Sinopsis 'Okaeri, Hatsukoi', Drama Terbaru Higuchi Kouhei dan Hayashi Meari

Sinopsis 'Okaeri, Hatsukoi', Drama Terbaru Higuchi Kouhei dan Hayashi Meari

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:34 WIB

Harga BBM Hari Ini 1 Oktober 2026: Pertalite hingga Pertamax

Harga BBM Hari Ini 1 Oktober 2026: Pertalite hingga Pertamax

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:33 WIB

Sidang Kasus Kuota Haji Hari Ini, Jaksa Hadirkan Bos Maktour Fuad Hasan Masyhur

Sidang Kasus Kuota Haji Hari Ini, Jaksa Hadirkan Bos Maktour Fuad Hasan Masyhur

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:30 WIB

KPK Hadirkan Fuad Hasan Masyhur Dalam Sidang Korupsi Kuota Haji Hari Ini

KPK Hadirkan Fuad Hasan Masyhur Dalam Sidang Korupsi Kuota Haji Hari Ini

Sulsel | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:25 WIB

Gen Z Mulai Doyan Emas, Pembiayaan Konsumer BCA Syariah Tumbuh 34,69%

Gen Z Mulai Doyan Emas, Pembiayaan Konsumer BCA Syariah Tumbuh 34,69%

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:25 WIB

×