Sadar Butuh ke Psikolog, Ini Alasan Terbesar Orang Belum Berani Konsultasi Kejiwaan

Kamis, 20 Januari 2022 | 22:05 WIB
Sadar Butuh ke Psikolog, Ini Alasan Terbesar Orang Belum Berani Konsultasi Kejiwaan
ilustrasi konsultasi psikologi. (Dok. Shutterstock)

Suara.com - Kesehatan mental hingga healing jadi topik hangat yang kerap dibahas di kalangan anak muda generasi Z hingga milenial.

Tapi sayangnya, Ilmuwan Psikologi Klinis, Farah Djalal mengatakan ada halangan stigma yang membuat masyarakat enggan mendatangi pakar psikologi seperti psikolog atau psikiater.

Padahal kata Farah, orang-orang ini sadar betul sangat membutuhkan terapi atau berkonsultasi dengan pakar kesehatan mental. Alhasil, hanya bisa mengobati kondisi gangguan mentalnya dengan caranya sendiri.

"Yang mereka lakukan kemudian adalah dengan cara mereka sendiri, dengan meditasi, relaksasi, yoga, mendekatkan diri pada tuhan," ungkap Farah dalam acara konferensi pers Mental Movement #Pelarian di Jakarta Selatan, Rabu (19/1/2022).

Setelah berusaha mengatasi sendiri, orang tersebut masih saja merasa belum tuntas karena tindakan tersebut tidak menyentuh sumber masalah yang sebenarnya, yang umumnya bisa dilakukan psikolog maupun psikiater.

Ilustrasi konsultasi psikolog (Unsplash)
Ilustrasi konsultasi psikolog (Unsplash)

"Mereka tahu bahwa mereka harus datang ke profesional psikolog, jadi stigma di kultur Indonesia ini masih kuat banget. Nanti kalau ke psikolog saya gila, nanti di-brain wash, nanti melanggar aturan agama dan sebagainya," ungkap Farah.

Sehingga alih-alih menunggu sumber masalah jadi meluas, dan bisa lebih berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Bahkan menimbulkan gangguan mental yang lebih parah seperti depresi, gangguan kecemasan (anxiety) hingga burnout (kelelahan berlebihan), Farah menyarankan untuk datang ke psikolog atau psikiater sebelum masalah bertambah parah.

Apalagi pergi ke psikolog atau psikiater, kata CEO sekaligus Pengagas HatiPlong itu, laiknya sama seperti pergi ke dokter saat sakit fisik. Tapi kali ini yang sakit adalah mental ataupun pikiran.

Baca Juga: Stigma Negatif yang Bertebaran bila Kamu Melakukan Konseling, Abaikan saja

"Jadi sebenernya yang begitu ngerasa bahwa ada sesuatu yang mengganjal yang bikin hidup saya nggak plong atau nggak enak, dan apalagi jangan tunggu sampai menganggu keseharian kita, datang aja ke psikolog," tutup Farah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI