facebook

Agar Target Cegah Stunting Tercapai, Nutrisionis Sarankan Bansos Jangan Berisi Beras dan Minyak

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Agar Target Cegah Stunting Tercapai, Nutrisionis Sarankan Bansos Jangan Berisi Beras dan Minyak
Ilustrasi anak makan ikan. (Shutterstock)

Konsumsi zat gizi seimbang jadi kunci utama dalam mencegah stunting pada anak-anak, terutama selama 1.000 pertama kehidupannya.

Suara.com - Konsumsi zat gizi seimbang jadi kunci utama dalam mencegah stunting pada anak-anak, terutama selama 1.000 pertama kehidupannya.

Ketua Asosiasi Nutrisionis Indonesia DPP Persagi Dr. Andrianto SH. M.Kes., mengatakan, protein hewani menjadi zat gizi terpenting untuk mencegah stunting. Ia menyarankan agar ibu hamil harus cukup konsumsi protein hewani, begitu pula anaknya setelah lahir.

"Protein hewani penting karena di dalamnya ada zinc yang bagus untuk tumbuh kembang anak," kata dokter Andrianto dalam siaran langsung Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan, Jumat (21/1/2022).

Protein hewani paling mudah dan murah bisa didapatkan dari ikan, seperti pindang, teri, juga ikan tuna.

Baca Juga: Harga Minyak Goreng di Pasar Tradisional Belum Satu Harga, Ini Kata Disperindag Lampung

Ilustrasi anak makan sayur dan buah. (Pexels)
Ilustrasi anak makan sayur dan buah. (Pexels)

Menurut dokter Andrianto, pemerintah sangat berperan penting dalam membantu masyarakat dapat kecukuoan gizi. Sehingga target menurunkan stunting hingga 14 persen pada 2024 bisa tercapai.

Ia menyarankan, saat memberikan bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat, sebaiknya jangan memberikan beras dan minyak.

"Kalau dalam konteks stunting, ya, tidak memberikan bantuan beras, gula atau minyak. Tapi lebih banyak memberikan bantuan protein hewani, lebih banyak ikan dalam kaleng misalnya," saran dokter Andrianto.

Ia menambahkan, apabila ibu hamil kurang asupan protein hewani, begitu pula anaknya setelah lahir, maka risikonya fisik tidak bertumbuh baik juga perkembangan otaknya tidak optimal.

Dampak jangka menengah dari stunting akan menyebabkan anak tumbuh pendek juga kemampuan kognitifnya rendah. Tak selesai di situ, dalam jangka panjang, anak yang stunting juga lebih berisiko obesitas dan mudah sakit saat dewasa.

Baca Juga: Viral Pengendara Mobil Toyota Kijang Mengisi Bahan Bakar Dicampur Minyak Goreng, Publik Heboh

"Kemudian ada gangguan metabolisme, sehingga pada usia 40 tahun ke atas cenderung akan memiliki penyakit degeneratif seperti kencing manis, ginjal, hipertensi, dan sebagainya," pungkasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar