facebook

Bolehkah MPASI Ditambahkan Penyedap Rasa? Ahli Gizi Ungkap yang Boleh Hanya Dua Bumbu Dapur Ini

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Bolehkah MPASI Ditambahkan Penyedap Rasa? Ahli Gizi Ungkap yang Boleh Hanya Dua Bumbu Dapur Ini
Ilusrasi MPASI (Shutterstock)

MPASI adalah makanan pertama yang akan dikonsumsi anak setelah ASI. Tapi saat proses membuatnya, banyak ibu yang penasaran, bolehkah MPASI ditambah penyedap rasa?

Suara.com - Makanan Pendamping ASI atau MPASI adalah makanan pertama yang akan dikonsumsi anak setelah ASI. Tapi saat proses membuatnya, banyak ibu yang penasaran, bolehkah MPASI ditambahkan penyedap rasa?

Menurut Ahli Gizi Keluarga, dr. Diana F. Suganda, Sp.GK, M.Kes, jawabannya, boleh. Ia yang menyadur pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDA) tentang penggunaan gula dan garam pada MPASI.

"Jadi dari WHO, dari IDAI sudah memperbolehkan, pada MPASI untuk anak menggunakan gula dan garam sudah boleh. Lalu, untuk menambahkan penyedap rasa juga boleh," ujar dr. Diana dalam konferensi pers Hari Gizi Nasional Royco, Selasa (25/1/2022).

Meski begitu, dr. Diana menegaskan penggunaan penyedap rasa ini tidak boleh berlebihan, dan harus secukupnya. Apalagi kata dia, mangkuk dan jumlah MPASI bayi hanya berkisar 150 hingga 200 mili.

Baca Juga: Gizi Seimbang Tidak Hanya Tentang Pola Makan, Gaya Hidup Aktif Juga Termasuk Loh!

ilustrasi balita makan MPASI. (Shutterstock)
ilustrasi balita makan MPASI. (Shutterstock)

"Itu paling sejumput atau paling pinch of, itu sudah membuat rasa jadi lebih nikmat, dan mudah-mudahan anaknya jadi lebih nafsu makan," tegasnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan alih-alih bertolok pada rasa makanan, dr. Diana berharap para orangtua fokus pada kandungan gizi pada MPASI, yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin dan mineral.

"Memberikan nutrisi dengan gizi seimbang, semuanya harus ada. Jadi bagaimana cara menjaga kualitasnya kita mau masak ada nasi, ikan, telur, sayur, buah dalam satu kali makan lengkap," terangnya.

Terakhir, ia juga minta para orangtua untuk perhatikan prose pengolahan makanan agar nutrisinya tetap terjadi. Seperti sayuran tidak terlampau matang hingga gizinya berkurang, atau menggoreng dengan suhu yang panas.

"Jadi saran saya untuk memasak protein dan sayuran tidak dipanaskan dengan suhu yang terlalu tinggi, jadi untuk menggoreng seperti tenggelam di minyak, disarankan model tumis saja tidak terlalu panas," tutup dr. Diana.

Baca Juga: Protein Hewani Disebut Mengandung Lebih Banyak Nutrisi dibanding Protein Nabati, Begini Penjelasan Ahli Gizi

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar