facebook

Studi: Covid-19 Dapat Menyebabkan Masalah Gangguan Mental Dalam Jangka Panjang

Arendya Nariswari | Rosiana Chozanah
Studi: Covid-19 Dapat Menyebabkan Masalah Gangguan Mental Dalam Jangka Panjang
Ilustrasi depresi pada Pria (Unsplash/ Nik Shuliahin)

Gangguan mental apa saja yang biasa dialami saat atau sesudah Covid-19?

Suara.com - Virus corona Covid-19 tidak hanya memengaruhi kesehatan secara fisik, tetapi juga mental. Bahkan, kondisinya dapat bertahan dalam jangka waktu cukup lama.

Menurut sebuah riset baru yang terbit di The BMJ, orang yang terinfeksi Covid-19, bahkan dalam bentuk ringan, memiliki risiko tinggi terkena berbagai gangguan mental. Durasinya bisa sampai satu tahun setelah fase akut penyakit.

Masalah kesehatan mental tersebut antara lain gangguan kecemasan dan depresi, gangguan penggunaan opioid, dan gangguan tidur.

"Yang paling mengejutkan kami adalah risiko gangguan mental terbukti dialami penderita Covid-19 ringan, yang tidak memerlukan rawat inap," ujar penulis utama penelitian Ziyad Al-Aly, MD.

Baca Juga: Kasus Stalker Para Selebriti: Apakah Menguntit Termasuk Gangguan Mental?

Dalam studi ini, peneliti dari VA St. Louis Health Care System menemukan penyintas Covid-19 berisiko mengalami gangguan tidur dan depresi masing-masing 41% dan 39%.

Ilustrasi seseorang yang depresi (unsplash.com)
Ilustrasi seseorang yang depresi (unsplash.com)

Mereka juga 35% berisiko terkena gangguan kecemasan, dan 38% mengalami stres serta gangguan stres pasca trauma (PTSD), lapor Health.

“Kebanyakan orang mulai mengembangkan gejala gangguan mental pada 90 hingga 120 hari pertama setelah infeksi awal mereka. Dalam beberapa kasus, itu bisa terjadi delapan bulan atau hingga satu tahun kemudian,” kata Al-Aly.

Di sisi lain, peneliti juga menemukan 80% penyintas Covid-19 mengalami masalah gangguan kognitif, seperti kabut orak dan kebingungan.

"Saya telah merawat banyak pasien Covid-19 yang tidak sakit parah tetapi mengalami insomnia yang sulit disembuhkan atau resisten terhadap pengobatan," imbuh ketua departemen kedokteran psikiatri dan forensik Antonio Bulbena di The Autonomous University of Barcelona.

Baca Juga: Klaim Idap Gangguan Mental, Percobaan Bunuh Diri Ayu Aulia Settingan?

Ia melanjutkan, "Pasien yang menderita depresi dan kecemasan juga tidak merespons pengobatan dengan baik. Covid-19 telah menghasilkan jenis kecemasan dan depresi berbeda yang sulit diobati."

Komentar