facebook

Penelitian Baru Temukan Efek Virus Corona Covid-19 pada Kehidupan Seksual, Seperti Apa?

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Penelitian Baru Temukan Efek Virus Corona Covid-19 pada Kehidupan Seksual, Seperti Apa?
Ilustrasi kehidupan seksual (Unsplash/We-Vibe WOW Tech)

Penelitian baru menemukan efek virus corona Covid-19 pada kehidupan seksual, mulai dari disfungsi ereksi hingga lainnya.

Suara.com - Efek virus corona Covid-19 pada bagian organ tubuh selain sistem pernapasan masih belum diketahui jelas.

Sebuah penelitian baru-baru ini pu mencari tahu lebih detail efek virus corona Covid-19 pada kesehatan seksual.

Studi tahun 2022 yang diterbitkan dalam International Journal of Impotence Research mengatakan bahwa efek pandemi virus corona Covid-19 pada kehidupan seksual dan kepuasan seksual orang adalah penyebab utama penurunan kesehatan seksual selama periode ini.

Salah satu efek virus corona Covid-19 pada kehidupan seksual adalah disfungsi endotel. Studi tersebut mengungkapkan bahwa pasca-infeksi, ada hilangnya fungsi fisiologis pada sel-sel endotel yang melapisi pembuluh darah.

Baca Juga: Batuk Terus-menerus Usai Pulih dari Virus Corona Covid-19, Begini Cara Mengatasinya!

Hal ini bisa menyebabkan gangguan peredaran darah di banyak organ. Studi tersebut mengatakan fungsi ereksi normal adalah hasil dari mekanisme kompleks termasuk sinyal saraf, pembuluh darah, dan hormonal.

Ilustrasi Virus Corona Covid-19. (Pixabay)
Ilustrasi Virus Corona Covid-19. (Pixabay)

Penurunan faktor psikologis, neurologis, hormonal, vaskular, dan kavernosal secara individual atau kombinasi bisa menyebabkan disfungsi ereksi.

Penyebab mendasar disfungsi ereksi terkait virus corona Covid-19 adalah hubungan yang terbentuk antara disfungsi endotel dan SARS-CoV-2 yang merusak jalur fisiologis yang terlibat dalam regulasi ereksi.

Disfungsi ereksi bisa terjadi karena afinitas reseptor ACE2 dari jaringan testis manusia untuk virus corona. Virus menginfeksi sel inang dengan berinteraksi dengan reseptor ACE2 pada epitel pernapasan.

Karena itulah, sebagian besar kasus virus corona Covid-19 dianggap sebagai penyakit pernapasan.

Baca Juga: Coba Atasi Disfungsi Ereksi Sendiri Menggunakan Semprotan Busa, Kondisi Pria Ini Berakhir Parah

Namun, reseptor ACE2 ini juga ditemukan di sistem kardiovaskular, gastrointestinal, neuroendokrin, dan genitourinari sehingga menjelaskan efek buruk virus corona pada sistem organ manusia lainnya.

"Sebuah penelitian juga mengungkapkan bahwa jaringan testis memiliki konsentrasi reseptor ACE2 tertinggi dibandingkan dengan jaringan manusia lainnya. Bahkan, lebih tinggi dari jaringan paru-paru yang menjadi target utama virus corona," kata peneliti dikutip dari Times of India.

Penyakit radang usus, penyakit ginjal, penyakit rematik, psoriasis, artritis gout dan ankylosing spondylitis adalah faktor risiko potensialnya.

Selain itu, usia, diabetes mellitus, dislipidemia, hipertensi, penyakit kardiovaskular, IMT/obesitas/lingkar pinggang, dan sindrom metabolik juga termasuk dalam faktor risiko.

"Selain itu, sitokin inflamasi seperti TNF-α, IL-6 dan IL-1β yang terjadi pada hiperinflamasi Covid-19 telah terbukti terkait dengan perkembangan klinis disfungsi seksual," katanya.

Komentar