Pendarahan Menstruasi yang Banyak setelah Vaksin Covid-19 Dinilai Benar Adanya, Begini Kata Peneliti

Senin, 18 Juli 2022 | 15:55 WIB
Pendarahan Menstruasi yang Banyak setelah Vaksin Covid-19 Dinilai Benar Adanya, Begini Kata Peneliti
Ilustrasi gambar menstruasi (freepik)

Suara.com - Siklus menstruasi terkait Covid-19 merupakan tanda vital kesehatan yang agak terlupakan dan jauh lebih jarang dibicarakan, termasuk di antara para wanita sendiri.

Kecuali pada 2021 lalu, ketika banyak wanita mulai menyadari bahwa pendarahan menstruasi mereka lebih berat dari biasanya, atau datang secara tidak terduga, setelah vaksinasi Covid-19.

Perubahan siklus ini hanya sementara dan kebanyakan akan kembali normal dalam satu atau dua bulan kemudian, lapor Science Alert.

Penelitian besar yang menyurvei lebih dari 39.000 wanita dewasa selama tiga bulan menemukan sekitar 42 persen dari mereka, yang siklus menstruasinya teratur, mengalami pendarahan lebih banyak dari biasanya setelah vaksin Covid-19.

Sementara 44 persen melaporkan tidak mengalami perubahan pada aluran menstruasi dan sisanya mengatakan mereka mengalami haid yang lebih ringan.

Ilustrasi Siklus Menstruasi (Pixabay.com)
Ilustrasi Siklus Menstruasi (Pixabay.com)

Tapi sebenarnya gagasan bahwa vaksin, yang memperkuat sistem kekebalan untuk melawan infeksi, dapat mengubah siklus menstruasi bukanlah hal baru.

Pada 1913 silam, sebuah studi mencatat vaksin tifoid berkaitan dengan menstruasi yang tidak teratur, baik terlambat, datang lebih awal, atau lebih berat.

"Umumnya, perubahan pendarahan menstruasi tidak jarang atau berbahaya, namun perhatian pada penglaman ini diperlukan untuk membangun kepercayaan terhadap obat," kata penulis studi Katharine Lee dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington.

Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian lain tentang orang yang sedang menstruasi di Inggris dan Belanda, dan menguatkan anekdot.

Baca Juga: Masuk Kepulauan Riau Wajib Vaksin Booster

Lee dan rekannya berhipotesis penyebab perubahan ini adalah karena vaksin dapat mengacaukan jalur inflamasi tubuh, daripada mengubah jalur hormon ovarium.

Langkah selanjutnya, Lee akan menganalisis kembali kumpulan data lengkap dari survei pertama, untuk melihat apakah temuan itu benar dalam sampel yang lebih besar dan dari waktu ke waktu.

Dalam studi kedua, Lee juga akan mempelajari pengalaman pengobatan di masa lalu peserta studi.

"Kami berharap kami dapat lebih memahami bagaimana pengalaman perawatan kesehatan memengaruhi sentimen vaksin," tandas rekan peneliti Kate Clancy dari University of Illinois di Urbana-Champaign.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI