Terobosan Baru Pengobatan Kanker, Benarkah Prosesnya Hanya Kurang dari Satu Detik?

Bimo Aria Fundrika, BBC

Senin, 03 Maret 2025 | 12:52 WIB
Terobosan Baru Pengobatan Kanker, Benarkah Prosesnya Hanya Kurang dari Satu Detik?
Pengobatan Kanker. (BBC Indonesia)

Suara.com - Baru-baru ini, para ilmuwan dikabarkan menemukan metode perawatan kanker yang hanya memakan waktu kurang dari satu detik. Apakah benar demikian?

Di gua bawah tanah pinggiran Jenewa, Swiss, eksperimen besar sedang berlangsung. Penelitian ini berpotensi menciptakan mesin radioterapi generasi baru.

Perangkat ini diharapkan mampu mengatasi kanker yang sudah menyebar, menyembuhkan tumor otak kompleks, dan mengurangi efek samping pengobatan.

Eksperimen ini dilakukan di European Laboratory for Particle Physics (CERN), lembaga yang sebelumnya mengembangkan Large Hadron Collider—alat untuk mempercepat partikel hampir setara kecepatan cahaya. Cikal bakal teknologi ini muncul sebelas tahun lalu.

Saat itu, Marie-Catherine Vozenin, ahli radiologi dari Geneva University Hospital (HUG), dan timnya merilis penelitian penting.

Mereka memperkenalkan pendekatan baru dalam radioterapi: Flash.

Metode ini bekerja dengan menembakkan radiasi dosis tinggi dalam waktu kurang dari satu detik. Hasil uji coba awal menunjukkan metode ini dapat menghancurkan tumor pada hewan pengerat tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.

Para ahli internasional menyebutnya sebagai terobosan besar. Sejak saat itu, penelitian terus berkembang. Para ilmuwan mulai menguji metode Flash untuk mengobati berbagai jenis tumor pada hewan, hewan peliharaan, hingga manusia.

Metode ini dinilai revolusioner karena dapat mengatasi keterbatasan radioterapi konvensional. Biasanya, pasien kanker menjalani radioterapi bertahap selama delapan pekan untuk mengurangi efek samping.

baca juga

Namun, dengan Flash, dosis radiasi yang sama bisa diberikan dalam waktu 2–5 menit saja. Sejak lama, para spesialis kanker meyakini peningkatan dosis radiasi dapat meningkatkan tingkat kesembuhan pasien.

Misalnya, sebuah riset menunjukkan bahwa dosis radiasi yang lebih tinggi bisa meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker paru-paru yang sudah menyebar ke otak.

Namun, ada kendala besar. Radiasi tidak hanya menargetkan sel kanker, tetapi juga bisa merusak sel sehat di sekitarnya.

Selama tiga dekade terakhir, mesin radiologi semakin canggih dan presisi. Tetapi, risiko kerusakan jaringan sehat masih sulit dihindari. Vozenin menyoroti contoh pada pengobatan tumor otak anak.

Radiasi memang bisa menyembuhkan, tetapi risikonya sangat tinggi.

“Pasien sering kali mengalami kecemasan dan depresi. Dampak radiasi juga bisa memengaruhi perkembangan otak dan menurunkan IQ secara drastis,” ujarnya.

“Kita bisa menyembuhkan mereka, tetapi harga yang dibayar terlalu mahal.”

Billy Loo, profesor radiologi dari Stanford University School of Medicine, menambahkan bahwa tumor tidak pernah benar-benar terpisah dari jaringan sehat.

Akibatnya, radiasi dosis tinggi sulit diterapkan tanpa risiko besar. Namun, penelitian terbaru menunjukkan metode Flash dapat meningkatkan dosis radiasi tanpa merusak jaringan sehat.

Dalam sebuah eksperimen, tikus yang diberikan dua kali radiasi dengan metode Flash tidak mengalami efek samping yang biasanya terjadi.

Studi lain menunjukkan bahwa hewan yang menerima Flash untuk pengobatan kanker kepala dan leher mengalami efek samping lebih ringan, seperti tidak mengalami kesulitan menelan atau penurunan produksi saliva.

Loo optimistis bahwa manfaat yang sama dapat diterapkan pada manusia.

“Metode Flash dapat mengurangi kerusakan jaringan sehat tanpa mengurangi efektivitas pengobatan tumor. Ini bisa menjadi revolusi dalam radioterapi,” katanya.

Selain itu, metode ini berpotensi mengurangi risiko kanker sekunder akibat paparan radiasi. Namun, hipotesis ini masih memerlukan bukti lebih lanjut.

Saat ini, uji coba Flash pada manusia semakin berkembang. Rumah Sakit Anak Cincinnati di Ohio, AS, bersiap mengujinya pada anak-anak dengan kanker yang telah menyebar ke tulang dada.

Sementara itu, dokter di Rumah Sakit Universitas Lausanne, Swiss, sedang melakukan uji coba kedua untuk pasien kanker kulit. Penelitian ini bukan hanya untuk membuktikan efektivitas Flash pada manusia, tetapi juga menentukan jenis radiasi terbaik untuk metode ini.

Jika berhasil, Flash bisa menjadi era baru dalam pengobatan kanker.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kasus Kanker Payudara Meningkat di 21 Negara Bagian AS, Wanita Muda Paling Berisiko?

Kasus Kanker Payudara Meningkat di 21 Negara Bagian AS, Wanita Muda Paling Berisiko?

News | Kamis, 27 Februari 2025 | 19:23 WIB

3 Metode Skrining untuk Deteksi Kanker Usus Besar

3 Metode Skrining untuk Deteksi Kanker Usus Besar

Health | Kamis, 27 Februari 2025 | 15:41 WIB

Cara Cegah Kanker Usus Besar, Kenali 3 Metode Skrining Ini

Cara Cegah Kanker Usus Besar, Kenali 3 Metode Skrining Ini

Health | Rabu, 26 Februari 2025 | 20:54 WIB

Terkini

Java United Was-was Persija Racikan Shin Tae-yong

Java United Was-was Persija Racikan Shin Tae-yong

Bola | Jum'at, 18 September 2026 | 17:25 WIB

Dukung Penuh Program 3 Juta Rumah, BRI Perkuat Sinergi Ekosistem Perumahan di Jakarta

Dukung Penuh Program 3 Juta Rumah, BRI Perkuat Sinergi Ekosistem Perumahan di Jakarta

Bisnis | Jum'at, 18 September 2026 | 17:23 WIB

Mengapa Wajah Pelaku Penendangan di Senayan City Diblur Polisi? Ini Penjelasan Polda Metro

Mengapa Wajah Pelaku Penendangan di Senayan City Diblur Polisi? Ini Penjelasan Polda Metro

News | Jum'at, 18 September 2026 | 17:22 WIB

Modal 7 Video Rekayasa Tambak Ikan, Mahasiswa di Way Kanan Kuras Tabungan Korban Rp700 Juta

Modal 7 Video Rekayasa Tambak Ikan, Mahasiswa di Way Kanan Kuras Tabungan Korban Rp700 Juta

Lampung | Jum'at, 18 September 2026 | 17:19 WIB

Debu Proyek Reklamasi KCN Terbang ke Rumah Warga, Sehari Bisa Nyapu-Ngepel 5 Kali

Debu Proyek Reklamasi KCN Terbang ke Rumah Warga, Sehari Bisa Nyapu-Ngepel 5 Kali

News | Jum'at, 18 September 2026 | 17:16 WIB

365 Repeat The Year, Thriller Time Travel dengan Alur Penuh Plot Twist

365 Repeat The Year, Thriller Time Travel dengan Alur Penuh Plot Twist

Your Say | Jum'at, 18 September 2026 | 17:10 WIB

Malaysia Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla RI: Kirim Pesawat hingga 52 Anggota Pemadam

Malaysia Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla RI: Kirim Pesawat hingga 52 Anggota Pemadam

News | Jum'at, 18 September 2026 | 17:08 WIB

Heboh 25 Merek Beras Gizi Palsu, Pemkot Bandar Lampung Sidak Pasar dan Ancam Tarik Paksa Produk

Heboh 25 Merek Beras Gizi Palsu, Pemkot Bandar Lampung Sidak Pasar dan Ancam Tarik Paksa Produk

Lampung | Jum'at, 18 September 2026 | 17:07 WIB

Sampah Organik 14 Pasar di Kota Makassar Jadi Pakan Ternak Sapi

Sampah Organik 14 Pasar di Kota Makassar Jadi Pakan Ternak Sapi

Sulsel | Jum'at, 18 September 2026 | 17:06 WIB

Bahaya Kabut Asap Karhutla: Bisa Turunkan Fungsi Paru hingga Picu Kanker

Bahaya Kabut Asap Karhutla: Bisa Turunkan Fungsi Paru hingga Picu Kanker

News | Jum'at, 18 September 2026 | 17:00 WIB

×