Sudah Ada Nyamuk Anti-DBD Sejak 9 Tahun Lalu, Kok Yogyakarta Masih Endemis?

Husna Rahmayunita, Dini Afrianti Efendi

Jum'at, 23 Mei 2025 | 07:54 WIB
Sudah Ada Nyamuk Anti-DBD Sejak 9 Tahun Lalu, Kok Yogyakarta Masih Endemis?
Nyamuk dbd (Pexels/Ravi Kant)

Suara.com - Meski Kota Yogyakarta sudah menerapkan teknologi nyamuk Wolbachia sejak 2016 lalu, namun wilayah tersebut masih tergolong sebagai kota endemis DBD alias demam berdarah dengue.

Fakta ini membuat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap membutuhkan 3M Plus sebagai upaya pencegahan DBD, yaitu menguras penampungan air, menutup rapat, mendaur ulang barang bekas, dan plus yang mengacu pada langkah tambahan seperti vaksin hingga menggunakan obat nyamuk.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembajun Setyaningastutie, M.Kes mengatakan untuk menjadikan Yogyakarta keluar sebagai endemis DBD, memerlukan perubahan pola pikir dan perilaku.

"Masalah utama dalam penanggulangan penyakit seperti DBD adalah perilaku. Perilaku hidup bersih dan sehat menjadi kunci utama," ujar Pembajun dalam keterangan yang diterima Suara.com, Kamis (22/5/2025).

Adapun langkah pencegahan DBD yaitu dengan cara menghindari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, sehingga masyarakat sebaiknya tidak menerapkan kebiasaan yang bisa memicu terbentuknya sarang nyamuk.

Tapi apabila sarang nyamuk sudah terbentuk maka harus dilakukan PSN, yaitu pemberantasan sarang nyamuk dengan pendekatan 3M Plus, ditambah kembali digalakkan G1R1J, yakni Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik.

Ilustrasi nyamuk demam berdarah dengue (DBD) (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi nyamuk demam berdarah dengue (DBD) (Pexels/Pixabay)

Jumantik adalah juru pemantau jentik, yaitu petugas yang bertugas memantau dan memberantas jentik nyamuk, terutama nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang menjadi penyebab demam berdarah (DBD). Orang ini yang nantinya bertugas 'merazia' jentik nyamuk yang ada di rumah dan sekitarnya.

Kabar baiknya, sederet informasi ini kembali disebarkan dari rumah ke rumah oleh Pemerintah DIY bersama Soffell, melalui program Bebas Nyamuk, Keluarga Sehat, dan Bebas DBD dengan menyasar 50.000 warga.

Sebanyak 270 kader Jumantik dilibatkan untuk mengedukasi sekaligus memberikan losion antinyamuk pada warga di wilayah Kota Yogyakarta (Kemantren Umbulharjo), Kabupaten Sleman (Kapanewon Prambanan), dan Kabupaten Gunungkidul (Kapanewon Wonosari).

baca juga

Di sisi lain, Head of HR & PR, RM Ardiantara mengatakan penanganan DBD tidak hanya pada pengobatan tapi juga pencegahan. Apalagi jika DBD menyerang seorang anggota keluarga, maka akan mengganggu kualitas hidup satu keluarga, mengingat penyakit ini perlu waktu cukup lama untuk bisa pulih sepenuhnya.

"Kami percaya bahwa edukasi kesehatan bukan sekadar informasi, tetapi investasi. Investasi dalam membentuk generasi yang lebih sadar, lebih tanggap, dan lebih siap menghadapi ancaman penyakit seperti DBD," papar Ardiantara.

Melansir Profil Kesehatan Kota Yogyakarta 2022, data kasus DBD pada 2021 terdapat 93 kasus dengan 1 di antaranya kasus kematian.

Berdasarkan lokasi kejadian, kecamatan yang endemis tinggi di Kota Yogyakarta adalah kecamatan di perbatasan Kabupaten Bantul dan Sleman, antara lain Kecamatan Umbulharjo 18 kasus, Gondokusuman ada 15 kasus, dan sebanyak 11 kasus serta 1 kematian di Kecamatan Wirobrajan.

Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam peluncuran program Bebas Nyamuk, Keluarga Sehat, dan Bebas DBD (Dok. Enesis Group)
Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam peluncuran program Bebas Nyamuk, Keluarga Sehat, dan Bebas DBD (Dok. Enesis Group)

Di sisi lain, pada 2016 Yogyakarta telah menerapkan teknologi nyamuk Wolbachia, yaitu nyamuk Aedes aegypti yang sudah 'diisi' dengan bakteri alami bernama Wolbachia. Ini karena Wolbachia bisa menghambat replikasi virus dengue di tubuh nyamuk, sehingga saat menggigit manusia, nyamuk tersebut tidak menularkan virus dengue.

Setelah teknologi ini diterapkan, kasus DBD di Yogyakarta berangsur menurun, yaitu rekor terendah ditemukan 67 kasus pada 2023. Padahal pada 2016 sebelumnya, jumlah kasus mencapai 1.700 per tahun.

Namun sayangnya, pada 2025 Yogyakarta alami kenaikan kasus DBD, karena baru awal tahun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat sudah ada 67 kasus DBD. Kondisi ini diduga terjadi karena faktor cuaca, ditambah masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan DBD.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Yogyakarta Kota Ketiga Tur SAMA SAMA: Kolaborasi Dere, Idgitaf, Kunto Aji, Sal Priadi, Tulus 2025

Yogyakarta Kota Ketiga Tur SAMA SAMA: Kolaborasi Dere, Idgitaf, Kunto Aji, Sal Priadi, Tulus 2025

Your Say | Senin, 19 Mei 2025 | 10:58 WIB

Pariwisata Alam dan Agrikultur di Lereng Gunung Merapi Sukses, Ini Kisah Sukses Desa BRILiaN

Pariwisata Alam dan Agrikultur di Lereng Gunung Merapi Sukses, Ini Kisah Sukses Desa BRILiaN

Bisnis | Minggu, 18 Mei 2025 | 16:25 WIB

4 Rekomendasi Kafe buat Me Time di Jogja, Bisa Healing Tenang Saat Akhir Pekan

4 Rekomendasi Kafe buat Me Time di Jogja, Bisa Healing Tenang Saat Akhir Pekan

Lifestyle | Sabtu, 17 Mei 2025 | 16:33 WIB

Terkini

Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled

Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Kulit Berminyak Pakai Facial Wash atau Facial Foam? Ini Perbedaannya

Kulit Berminyak Pakai Facial Wash atau Facial Foam? Ini Perbedaannya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun

Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:07 WIB

Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja

Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Rp33.000 dalam Dua Hari

Harga Emas Antam Anjlok Rp33.000 dalam Dua Hari

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:00 WIB

Jebakan WA Berujung Bui: Polisi Nyamar Jadi Pelanggan, Mami Prostitusi di Metro Tak Berkutik

Jebakan WA Berujung Bui: Polisi Nyamar Jadi Pelanggan, Mami Prostitusi di Metro Tak Berkutik

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:59 WIB

Sering Dilakukan Tanpa Sadar, 5 Kebiasaan Pemotor saat Hujan Ini Ternyata 'Undang' Maut

Sering Dilakukan Tanpa Sadar, 5 Kebiasaan Pemotor saat Hujan Ini Ternyata 'Undang' Maut

Otomotif | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:46 WIB

Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang

Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:40 WIB

Bawa Pesan dari Mandalika, 5 Pembalap Muda Indonesia Siap 'Ngamuk' di Sepang

Bawa Pesan dari Mandalika, 5 Pembalap Muda Indonesia Siap 'Ngamuk' di Sepang

Sport | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:38 WIB

Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum

Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum

Surakarta | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:37 WIB

×