- Kelainan refraksi tidak terkoreksi merupakan penyebab utama gangguan penglihatan berdampak pada pendidikan dan produktivitas di Indonesia.
- Kemenkes RI bersama OneSight EssilorLuxottica Foundation meluncurkan inisiatif strategis untuk akses layanan kesehatan mata merata.
- Program tiga tahun meliputi pelatihan perawat, penguatan Vision Center, donasi 50.000 kacamata, dan peningkatan kesadaran publik.
Ia menekankan bahwa banyak gangguan penglihatan sebenarnya dapat dicegah atau dikoreksi jika terdeteksi sejak dini, sehingga kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting.
Komitmen jangka panjang juga disampaikan oleh Patricia Koh, Head of OneSight EssilorLuxottica Foundation Asia Tenggara.
“Kami berkomitmen untuk bekerja bersama Kementerian Kesehatan dan para mitra lokal dalam meningkatkan deteksi dini, menyediakan solusi yang terjangkau, serta memperluas layanan kesehatan mata yang berkualitas,” tuturnya.
Sebagai wujud nyata dari inisiatif ini, telah dilaksanakan skrining penglihatan dan pemberian kacamata gratis kepada 800 penerima manfaat. Langkah ini tidak hanya membantu masyarakat melihat lebih jelas, tetapi juga menjadi sarana edukasi bahwa menjaga kesehatan mata sejak dini adalah investasi penting untuk masa depan.
Selaras dengan prioritas kesehatan nasional dan komitmen global SPECS 2030 dari World Health Organization (WHO), inisiatif ini menegaskan bahwa kesehatan mata, termasuk penanganan kelainan refraksi bukan sekadar isu medis, melainkan fondasi penting bagi peningkatan kualitas hidup dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.