Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Dinda Rachmawati

Jum'at, 10 April 2026 | 14:00 WIB
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
Ilustrasi Cat Rumah Mengandung Timbal (Dok. Freepik)
  • Adjie Negara menekankan pentingnya penggunaan material bangunan bebas timbal guna menciptakan hunian sehat dalam diskusi media di Jakarta.
  • Paparan timbal dari cat atau debu material rusak terbukti mengganggu perkembangan otak anak serta kesehatan organ tubuh dewasa.
  • Pemerintah telah mengadopsi standar SNI untuk membatasi kandungan timbal, namun pemantauan berkala tetap krusial guna memastikan keamanan bangunan.

Suara.com - Hidup sehat tidak hanya soal pola makan dan olahraga, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan tempat kita tinggal. Tanpa disadari, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru bisa menyimpan ancaman tersembunyi, salah satunya dari material bangunan yang mengandung timbal (lead). 

Zat ini kerap ditemukan pada cat, pipa, hingga debu dari material lama yang sudah rusak. Arsitek dan Urban Designer di KIND Architects, Adjie Negara, menekankan bahwa bangunan memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan penghuninya. 

“Setiap ruang yang dibangun tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga menjadi fondasi bagi lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam diskusi media yang diselenggarakan oleh Forum NGOBRAS di ABETO, Menteng, Jakarta.

Menurut Adjie, pemilihan material menjadi semakin krusial seiring meningkatnya pembangunan dan renovasi. Ia mengingatkan bahwa penggunaan material bebas zat berbahaya, termasuk timbal, harus menjadi perhatian utama. 

“Pesatnya pembangunan menjadikan pemilihan material bangunan semakin relevan dalam mendukung kesehatan jangka panjang, baik di rumah, kantor, maupun fasilitas publik seperti daycare,” jelasnya.

Ancaman terbesar muncul saat material mulai rusak. Cat yang mengelupas, misalnya, bisa menghasilkan debu berbahaya. “Seiring waktu, kualitas material bisa menurun. Cat yang rusak dapat menghasilkan debu yang berpotensi terhirup atau tertelan, terutama oleh anak-anak,” tambahnya.

Bahaya ini bukan sekadar teori. Data Surveilans Nasional menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 µg/dL. Angka ini menjadi alarm serius bahwa paparan timbal sudah terjadi di lingkungan sehari-hari.

Ahli Kimia dari Universitas Indonesia, Yuni Krisyuningsih Krisnandi, menjelaskan bahwa timbal merupakan logam berat yang banyak digunakan karena sifatnya stabil dan tahan korosi. Namun di balik itu, risikonya sangat besar. 

“Timbal bisa masuk ke tubuh melalui udara atau tertelan, lalu menyebar ke organ seperti tulang, ginjal, dan sistem saraf,” ujarnya.

Paparan timbal, bahkan dalam kadar rendah, dapat merusak berbagai sistem tubuh. Dokter spesialis anak, Reza Fahlevi, menegaskan dampak serius pada anak. 

“Paparan timbal dapat mengganggu perkembangan otak, menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, gangguan perilaku, hingga prestasi belajar yang lebih rendah,” jelasnya.

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga berisiko mengalami penyakit ginjal dan gangguan kardiovaskular seperti hipertensi dan penyakit jantung. Sementara pada ibu hamil, timbal dapat melintasi plasenta dan meningkatkan risiko keguguran hingga kelahiran prematur.

Yang membuatnya berbahaya, paparan timbal terjadi secara perlahan dan akumulatif. Sumbernya bisa berasal dari debu rumah, serpihan cat lama, hingga tanah yang terkontaminasi. “Paparan jangka panjang meskipun dalam kadar rendah tetap dapat berdampak terhadap kesehatan tubuh,” imbuh dr. Reza.

Dari sisi regulasi, World Health Organization (WHO) merekomendasikan batas kandungan timbal dalam cat di bawah 90 ppm. Indonesia telah mengadopsi standar ini melalui SNI 8011:2014 dan revisinya SNI 8011:2022, meskipun penerapannya masih bersifat sukarela.

Menurut Prof. Yuni, tren global kini mengarah pada penggunaan material bebas timbal. “Standar ini diterapkan melalui regulasi yang membatasi atau melarang penggunaan timbal dalam cat dan bahan bangunan demi menciptakan lingkungan yang lebih sehat,” jelasnya.

Adjie pun menegaskan pentingnya perawatan dan inspeksi rutin bangunan. “Pemantauan berkala memungkinkan kerusakan ditemukan lebih dini, sehingga bisa segera diperbaiki menggunakan material yang aman,” katanya.

Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya timbal, memilih material bangunan yang aman bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga fondasi kesehatan jangka panjang bagi seluruh anggota keluarga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gaji Minimum, Beban Maksimum: Krisis Mental Health Para Pekerja UMR

Gaji Minimum, Beban Maksimum: Krisis Mental Health Para Pekerja UMR

Your Say | Jum'at, 10 April 2026 | 10:45 WIB

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 19:16 WIB

Jantung dan Stroke Kini Mengincar Usia 20-an, Ini Cara Simpel Mencegahnya

Jantung dan Stroke Kini Mengincar Usia 20-an, Ini Cara Simpel Mencegahnya

Your Say | Kamis, 09 April 2026 | 15:48 WIB

Terkini

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:00 WIB