- Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Menko Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia mendirikan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia di Jakarta pada 24 Juli 2026 guna mengatasi tingginya impor obat.
- Perusahaan patungan antara Tempo Scan dan SBP Group tersebut berfokus melakukan transfer teknologi untuk memproduksi 13 jenis obat kanker serta terapi penyakit berat di dalam negeri.
- Kolaborasi strategis ini bertujuan memperkuat ketahanan kesehatan nasional, meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang terjangkau, serta mendukung kemandirian industri farmasi Indonesia.
Suara.com - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengungkapkan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian industri farmasi.
Ketergantungan terhadap obat sintetis maupun produk biologis impor masih sangat tinggi, sehingga kolaborasi strategis dengan perusahaan farmasi global dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
Pernyataan itu disampaikan Taruna dalam seremoni pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI), perusahaan patungan antara PT Tempo Scan Pacific Tbk dan Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group Co., Ltd (CTTQ), anak usaha Sino Biopharmaceutical Limited (SBP Group), di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Menurut Taruna, dengan jumlah penduduk yang diperkirakan segera melampaui 300 juta jiwa, kebutuhan obat di Indonesia akan terus meningkat. Namun hingga kini industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada produk luar negeri.
"Untuk obat sintetis kimia, sekitar 94 persen masih bergantung pada luar negeri. Sementara untuk produk biologis, termasuk biosimilar, hampir 100 persen kita masih bergantung," ujar Taruna.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat Indonesia membutuhkan investasi dan transfer teknologi agar mampu memproduksi lebih banyak obat modern di dalam negeri, terutama untuk penyakit dengan beban tinggi seperti kanker dan diabetes.
"Kalau kolaborasi ini mampu memproduksi lebih banyak obat di Indonesia, tentu akan sangat membantu masyarakat. Kita berharap terapi untuk kanker, diabetes, dan penyakit lainnya bisa semakin mudah diakses," katanya.
Status BPOM Kini Diakui Dunia
Taruna juga menyoroti capaian Indonesia yang kini telah memperoleh status WHO Listed Authority (WLA). Menurutnya, pencapaian tersebut menempatkan BPOM sejajar dengan regulator obat terbaik dunia.
"Dari sekitar 300 regulator di dunia, hanya sedikit yang memperoleh status ini. Indonesia kini sejajar dengan regulator seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Australia," ujarnya.
Ia menjelaskan pengakuan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
"Produk yang telah mendapatkan persetujuan BPOM kini memiliki kredibilitas lebih tinggi sehingga berpotensi lebih mudah diekspor ke berbagai negara. Ini menjadi keuntungan besar bagi industri farmasi Indonesia," katanya.

Belajar dari Pandemi COVID-19
Senada dengan Taruna, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kerja sama ini hadir pada momentum yang tepat karena pemerintah tengah mendorong kemandirian sektor kesehatan.
Ia mengingatkan pengalaman pandemi COVID-19 ketika banyak negara menutup ekspor vaksin maupun obat demi memenuhi kebutuhan domestik masing-masing.
"Pengalaman COVID-19 membuktikan pentingnya Indonesia memiliki kemampuan memproduksi obat sendiri. Saat itu hampir semua negara mengutamakan kepentingan nasionalnya," kata Airlangga.
Menurutnya, Indonesia masih bergantung pada impor berbagai produk biofarmasi, mulai dari terapi kanker, penyakit hati, diabetes, penyakit pernapasan, hingga antibodi monoklonal, biosimilar, recombinant protein, sitokin, dan insulin biologis.
Ia berharap perusahaan patungan ini dapat memproduksi berbagai obat tersebut di Indonesia sehingga harga menjadi lebih kompetitif.
"Kesehatan tidak boleh menjadi barang mewah. Obat-obatan biologi harus bisa diakses masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.
Bukan Sekadar Distribusi, tetapi Membangun Industri
Sementara itu, Executive Chairman & Co-founder Tempo Scan Group, Handojo S. Muljadi, menegaskan kerja sama ini bukan sekadar perjanjian lisensi atau distribusi produk seperti yang lazim dilakukan perusahaan farmasi asing.
Menurutnya, Tempo Scan dan SBP Group sengaja memilih skema joint venture karena memiliki komitmen jangka panjang untuk membangun industri farmasi di Indonesia.
"Joint venture mengandung komitmen jangka panjang melalui pembentukan perusahaan permanen di Indonesia dengan modal ekuitas dan tanggung jawab bersama. Indonesia tidak hanya menjadi pasar untuk menjual produk, tetapi menjadi bagian dari global value chain," ujar Handojo.
Ia menjelaskan TCBI akan mengembangkan roadmap transfer teknologi menuju produksi lokal secara bertahap dengan memanfaatkan fasilitas manufaktur Tempo Scan.
Tempo Scan sendiri akan mengontribusikan ekosistem bisnis yang telah dimilikinya, mulai dari 16 fasilitas manufaktur, termasuk tiga fasilitas bersertifikat Good Manufacturing Practice (GMP), jaringan distribusi nasional dengan 46 cabang Pedagang Besar Farmasi (PBF), hingga sistem logistik yang menjangkau seluruh Indonesia.
Di sisi lain, SBP Group akan menghadirkan kekuatan riset dan pengembangan, teknologi produksi modern, serta portofolio obat inovatif, biologik, dan biosimilar.
"TCBI akan menjadi saluran yang menghubungkan inovasi farmasi global dengan pasien di Indonesia," katanya.
Target Hadirkan 13 Obat Kanker
Handojo mengungkapkan salah satu fokus utama TCBI ialah menghadirkan terapi kanker.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2024, Indonesia mencatat sekitar 474 ribu kasus kanker baru setiap tahun dengan lebih dari 283 ribu kematian.
Karena itu, TCBI berencana meluncurkan 13 produk onkologi dan terapi pendukung, termasuk untuk kanker payudara, kanker paru, leukemia, kanker prostat, hingga kanker hati.
Selain onkologi, perusahaan juga akan mengembangkan portofolio untuk penyakit kardiovaskular, diabetes, dan penyakit pernapasan, termasuk terapi biologis dan obat inovatif.
Menurut Handojo, meningkatnya pilihan terapi akan memperkuat persaingan di industri farmasi sehingga harga obat menjadi lebih kompetitif.
"Yang paling penting adalah meningkatkan kompetisi. Dengan semakin banyak pilihan obat berkualitas, pemerintah melalui BPJS maupun pasien memiliki lebih banyak alternatif terapi dengan harga yang lebih terjangkau," katanya.
Ia menambahkan kerja sama ini juga diharapkan mendorong alih teknologi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kapasitas manufaktur lokal, hingga membuka peluang penelitian klinis di Indonesia.
SBP Group: Indonesia Pasar Strategis
Head of International Business Sino Biopharmaceutical sekaligus perwakilan SBP Group, Philip Dong, mengatakan pembentukan TCBI menjadi tonggak penting dalam strategi ekspansi internasional perusahaan.
"Kami sangat senang dapat bermitra dengan Tempo Scan, salah satu perusahaan kesehatan terkemuka di Indonesia. Dengan menggabungkan portofolio obat inovatif dan kapabilitas riset SBP Group dengan keahlian lokal serta jaringan komersial Tempo Scan, kami berharap dapat mempercepat akses pasien Indonesia terhadap terapi inovatif sekaligus berkontribusi memperkuat ekosistem kesehatan Indonesia," ujar Philip.
Dalam beberapa tahun mendatang, TCBI akan meluncurkan berbagai produk specialty pharmaceutical dan innovative medicine secara bertahap, baik yang telah memperoleh persetujuan maupun yang masih menjalani proses registrasi. Kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu motor penggerak menuju industri farmasi nasional yang lebih mandiri, inovatif, dan berdaya saing global.