- Pendaki Juvensius melakukan latihan fisik intensif selama enam bulan untuk menghadapi ekstremnya Puncak Trikora, Papua.
- Kawasan Puncak Trikora di Taman Nasional Lorentz merupakan Situs Warisan Alam Dunia UNESCO dan benteng keanekaragaman hayati.
- Praktisi Ruslan Budiarto menyatakan bentang alam Papua berpotensi menjadi sumber penghidupan melalui ekowisata tanpa merusak ekosistem.
Suara.com - Mendaki gunung kini menjadi salah satu aktivitas luar ruang yang digemari banyak orang. Namun, di balik keindahan panorama puncaknya, alam bebas selalu menyimpan risiko tak terduga. Sehingga, persiapan fisik, kematangan mental, serta kesadaran terhadap kelestarian lingkungan menjadi modal mutlak sebelum menapakkan kaki di jalur pendakian.
Langkah pertama yang tidak boleh diabaikan oleh calon pendaki adalah memastikan kondisi kesehatan dalam keadaan prima. Pemeriksaan medis ke dokter sangat disarankan untuk mendeteksi adanya riwayat penyakit krusial, seperti gangguan jantung atau pernapasan, guna mencegah kondisi darurat di tengah gunung.
Selain itu, adaptasi fisik harus dilakukan jauh-jauh hari. Latihan bisa dimulai secara bertahap melalui aktivitas jalan kaki, joging, hingga latihan khusus untuk memperkuat otot kaki.
Menjelang hari pendakian, menjaga asupan gizi yang seimbang serta pola tidur yang cukup akan sangat menentukan stamina di lapangan.
Saat berada di jalur, pendaki wajib memahami sinyal-sinyal bahaya dari tubuhnya sendiri. Memaksakan ego adalah kesalahan fatal. Segeralah beristirahat jika tubuh mulai mengalami kelelahan ekstrem atau dehidrasi.
Pendaki juga harus mengenali tanda-tanda hipotermia akibat paparan cuaca dingin dan angin kencang, serta mewaspadai Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian yang kerap diawali dengan rasa pusing mual.
Kematangan Mental Menghadapi Medan Ekstrem
Pentingnya kesiapan fisik dan mental ini tergambar jelas dalam ekspedisi menuju Puncak Trikora di Papua Pegunungan. Dengan ketinggian mencapai 4.751 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung yang sebelumnya bernama Puncak Wilhelmina ini dikenal memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, medan yang berat, serta cuaca yang teramat ekstrem.
Juvensius, seorang pendaki yang merangkum catatan perjalanannya menapaki Trikora dalam buku literasi pendakian bertajuk Mengintip Sepotong Surga, membagikan pengalamannya. Untuk menghadapi kerasnya alam Papua, ia mengaku harus melatih fisiknya secara intensif selama enam bulan.
"Saya sudah siapkan (fisik) enam bulan sebelum berangkat, karena saya tidak ingin merepotkan orang-orang di sana ketika pendakian," ungkap Juvensius.

Merawat "Hutan Esok Hari" Milik Indonesia
Di luar urusan fisik dan mental, pendakian sejati harus diiringi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Puncak Trikora yang berada di zona inti Taman Nasional Lorentz bukan sekadar arena bermain para pendaki. Kawasan ini merupakan Situs Warisan Alam Dunia UNESCO dan satu dari sedikit tempat di daerah tropis yang masih memiliki gletser es.
Gugusan pegunungan Papua adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang menjaga keseimbangan ekosistem. Sayangnya, kondisi alam saat ini terus berada di bawah ancaman perusakan.
Manajer Program Kehutanan Yayasan Kehati, Christian Natalie, menganalogikan hutan Papua sebagai 'supermarket' raksasa penyedia bahan makanan dan obat-obatan alami.
Namun, ia mengingatkan dengan nada getir, "Hutan kita tidak sedang baik-baik saja."