Nekat Mendaki Tanpa Persiapan Fisik dan Mental? Ini Akibat Fatal Bagi Pendaki

M Nurhadi

Selasa, 01 September 2026 | 20:35 WIB
Nekat Mendaki Tanpa Persiapan Fisik dan Mental? Ini Akibat Fatal Bagi Pendaki
ilustrasi mendaki gunung (freepik/freepic.diller)
baca 10 detik
  • Pendaki Juvensius melakukan latihan fisik intensif selama enam bulan untuk menghadapi ekstremnya Puncak Trikora, Papua.
  • Kawasan Puncak Trikora di Taman Nasional Lorentz merupakan Situs Warisan Alam Dunia UNESCO dan benteng keanekaragaman hayati.
  • Praktisi Ruslan Budiarto menyatakan bentang alam Papua berpotensi menjadi sumber penghidupan melalui ekowisata tanpa merusak ekosistem.

Suara.com - Mendaki gunung kini menjadi salah satu aktivitas luar ruang yang digemari banyak orang. Namun, di balik keindahan panorama puncaknya, alam bebas selalu menyimpan risiko tak terduga. Sehingga, persiapan fisik, kematangan mental, serta kesadaran terhadap kelestarian lingkungan menjadi modal mutlak sebelum menapakkan kaki di jalur pendakian.

Langkah pertama yang tidak boleh diabaikan oleh calon pendaki adalah memastikan kondisi kesehatan dalam keadaan prima. Pemeriksaan medis ke dokter sangat disarankan untuk mendeteksi adanya riwayat penyakit krusial, seperti gangguan jantung atau pernapasan, guna mencegah kondisi darurat di tengah gunung.

Selain itu, adaptasi fisik harus dilakukan jauh-jauh hari. Latihan bisa dimulai secara bertahap melalui aktivitas jalan kaki, joging, hingga latihan khusus untuk memperkuat otot kaki.

Menjelang hari pendakian, menjaga asupan gizi yang seimbang serta pola tidur yang cukup akan sangat menentukan stamina di lapangan.

Saat berada di jalur, pendaki wajib memahami sinyal-sinyal bahaya dari tubuhnya sendiri. Memaksakan ego adalah kesalahan fatal. Segeralah beristirahat jika tubuh mulai mengalami kelelahan ekstrem atau dehidrasi.

Pendaki juga harus mengenali tanda-tanda hipotermia akibat paparan cuaca dingin dan angin kencang, serta mewaspadai Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian yang kerap diawali dengan rasa pusing mual.

Kematangan Mental Menghadapi Medan Ekstrem

Pentingnya kesiapan fisik dan mental ini tergambar jelas dalam ekspedisi menuju Puncak Trikora di Papua Pegunungan. Dengan ketinggian mencapai 4.751 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung yang sebelumnya bernama Puncak Wilhelmina ini dikenal memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, medan yang berat, serta cuaca yang teramat ekstrem.

Juvensius, seorang pendaki yang merangkum catatan perjalanannya menapaki Trikora dalam buku literasi pendakian bertajuk Mengintip Sepotong Surga, membagikan pengalamannya. Untuk menghadapi kerasnya alam Papua, ia mengaku harus melatih fisiknya secara intensif selama enam bulan.

baca juga

"Saya sudah siapkan (fisik) enam bulan sebelum berangkat, karena saya tidak ingin merepotkan orang-orang di sana ketika pendakian," ungkap Juvensius.

Diskusi Buku Mengintip Sepotong Surga
Diskusi Buku Mengintip Sepotong Surga

Merawat "Hutan Esok Hari" Milik Indonesia

Di luar urusan fisik dan mental, pendakian sejati harus diiringi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Puncak Trikora yang berada di zona inti Taman Nasional Lorentz bukan sekadar arena bermain para pendaki. Kawasan ini merupakan Situs Warisan Alam Dunia UNESCO dan satu dari sedikit tempat di daerah tropis yang masih memiliki gletser es.

Gugusan pegunungan Papua adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang menjaga keseimbangan ekosistem. Sayangnya, kondisi alam saat ini terus berada di bawah ancaman perusakan.

Manajer Program Kehutanan Yayasan Kehati, Christian Natalie, menganalogikan hutan Papua sebagai 'supermarket' raksasa penyedia bahan makanan dan obat-obatan alami.

Namun, ia mengingatkan dengan nada getir, "Hutan kita tidak sedang baik-baik saja."

Pandangan serupa disampaikan oleh Ruslan Budiarto, praktisi yang kerap melakukan ekspedisi di Papua. Ia menekankan bahwa kawasan pegunungan Papua memiliki potensi luar biasa dari segi flora, fauna, bebatuan, hingga kearifan lokal.

Jika dikelola dengan benar, bentang alam ini bisa menjadi sumber penghidupan melalui ekowisata, tanpa harus merusak ekosistem. "Tak perlu menyedot emas dari perut buminya," tegas Ruslan.

Pada akhirnya, mendaki gunung adalah proses belajar untuk menghargai alam. Ada sebuah pameo yang menyebutkan bahwa hutan Jawa dan Sumatera adalah hutan kemarin, hutan Kalimantan adalah hutan hari ini, dan hutan Papua adalah hutan esok hari.

Menyiapkan diri sebelum mendaki adalah cara kita menyelamatkan nyawa, sementara menjaga kebersihan dan kelestariannya adalah cara kita menyelamatkan bumi dari keserakahan manusia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mencari Diri Sendiri di Atas Awan: Mengapa Kamu Perlu Mencoba Mendaki Sekali Seumur Hidup

Mencari Diri Sendiri di Atas Awan: Mengapa Kamu Perlu Mencoba Mendaki Sekali Seumur Hidup

Your Say | Kamis, 02 Juli 2026 | 11:11 WIB

Dari Fort Du Bus hingga Trikora: Membaca Papua dari Arsip Kolonial

Dari Fort Du Bus hingga Trikora: Membaca Papua dari Arsip Kolonial

Your Say | Kamis, 25 Juni 2026 | 08:00 WIB

Gunung Kembang: Pendakian Singkat dengan Pemandangan Memikat

Gunung Kembang: Pendakian Singkat dengan Pemandangan Memikat

Your Say | Kamis, 11 Juni 2026 | 15:25 WIB

Terkini

Bakar Sampah Berujung Petaka, Pohon di Joglo Ambruk Timpa Kabel dan Tembok

Bakar Sampah Berujung Petaka, Pohon di Joglo Ambruk Timpa Kabel dan Tembok

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:21 WIB

Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia

Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:20 WIB

Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar

Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar

Surakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:18 WIB

Polemik Tunggakan PBB Rp2,33 Miliar Yayasan IGM Palembang, Ratu Dewa Singgung Evaluasi Data

Polemik Tunggakan PBB Rp2,33 Miliar Yayasan IGM Palembang, Ratu Dewa Singgung Evaluasi Data

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:16 WIB

Pembalut Dikenai PPN 11 Persen, Bu Tejo 'Tilik' Kritik Keras Pemerintah: Ora Duwe Utek!

Pembalut Dikenai PPN 11 Persen, Bu Tejo 'Tilik' Kritik Keras Pemerintah: Ora Duwe Utek!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:13 WIB

Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak

Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak

Jawa Tengah | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:10 WIB

CASA Maybank Indonesia Tumbuh 16,7%, Rasio Dana Murah Capai 64,1%

CASA Maybank Indonesia Tumbuh 16,7%, Rasio Dana Murah Capai 64,1%

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:10 WIB

Masduki Sebut Ada Upaya Sistematis Alihkan Isu Evaluasi Pemerintah Lewat Framing Anarkisme

Masduki Sebut Ada Upaya Sistematis Alihkan Isu Evaluasi Pemerintah Lewat Framing Anarkisme

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:06 WIB

Cara Pakai Moisturizer Retinol Hanasui untuk Pudarkan Flek Hitam di Usia 40 Tahun ke Atas

Cara Pakai Moisturizer Retinol Hanasui untuk Pudarkan Flek Hitam di Usia 40 Tahun ke Atas

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:05 WIB

Sempat Syok! Siswa Sekolah Rakyat Korban Penganiayaan Kadet Unhan di Jember Mulai Bersekolah Lagi

Sempat Syok! Siswa Sekolah Rakyat Korban Penganiayaan Kadet Unhan di Jember Mulai Bersekolah Lagi

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:04 WIB

×