-
Pemeriksaan kesuburan pasutri perlu dilakukan bersama oleh suami dan istri.
-
Evaluasi medis melalui pemeriksaan kesuburan pasutri membantu menentukan program hamil.
-
WHO mencatat infertilitas dialami 1 dari 6 orang di dunia.
Suara.com - Perempuan kerap menjadi pihak pertama yang diminta melakukan pemeriksaan jika setelah menikah tak kunjung hamil. Padahal, masalah kesuburan perlu melibatkan kerja sama suami dan istri.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Bocah Indonesia, dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, FIICOG, mengatakan pemeriksaan kesuburan seharusnya tidak dibebankan kepada perempuan seorang diri.
“Promil bukan tentang mencari siapa yang bermasalah, tetapi memahami kondisi pasangan secara menyeluruh agar penanganannya bisa lebih tepat,” ujar dr. Cynthia melalui keterangan yang diterima Suara.com, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, kondisi kesuburan dapat dipengaruhi berbagai faktor dari sisi perempuan maupun laki-laki. Dengan pemeriksaan kedua pasangan, dokter dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap sebelum menentukan langkah atau program kehamilan yang sesuai.
Hal ini sejalan dengan pedoman American Society for Reproductive Medicine (ASRM) yang merekomendasikan evaluasi kesuburan dilakukan terhadap pasangan laki-laki dan perempuan secara bersamaan.
Pada laki-laki, pemeriksaan awal dapat mencakup riwayat reproduksi dan analisis sperma atau semen analysis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa infertilitas dapat disebabkan faktor laki-laki, perempuan, kombinasi keduanya, maupun faktor yang belum diketahui.
Pada sistem reproduksi laki-laki, gangguan kesuburan dapat berkaitan dengan jumlah sperma yang rendah atau tidak ada, bentuk dan pergerakan sperma yang abnormal, gangguan produksi sperma, hingga masalah pada saluran reproduksi.
Sementara pada perempuan, penyebabnya antara lain gangguan pada ovarium, saluran tuba, rahim, maupun sistem hormonal.
WHO bahkan mencatat infertilitas merupakan persoalan kesehatan global. Sekitar 1 dari 6 orang usia reproduktif di dunia mengalami infertilitas sepanjang hidupnya.
Karena itu, anggapan bahwa perempuan otomatis menjadi penyebab ketika pasangan sulit mendapatkan keturunan dapat membuat proses diagnosis menjadi tidak tepat sasaran.
Fakta ini juga menjadi alasan pusat pendampingan fertilitas Bocah Indonesia terus mengedukasi pasangan, termasuk mengajak suami dan istri untuk lebih terbuka terhadap pemeriksaan kesuburan dan tidak menunda konsultasi apabila kehamilan belum juga terjadi.
Edukasi ini juga dilakukan saat digelarnya Bocah Family Reunion di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, pada Minggu, 30 Agustus 2026 lalu.
Pada momen ini, turut hadir mantan artis cilik sekaligus pejuang garis dua, Dhea Ananda, yang berhasil memiliki buah hati melalui program bayi tabung atau IVF.
Bocah Family Reunion menjadi ruang untuk merayakan perjalanan panjang para pejuang garis dua—mulai dari masa penuh harap, pemeriksaan kesuburan, rangkaian program hamil, hingga akhirnya menyambut kehadiran buah hati.
"Family Reunion ini adalah cara kami menyampaikan terima kasih sekaligus merayakan setiap perjalanan yang telah dilalui. Kami ingin setiap pejuang garis dua mengetahui bahwa mereka tidak menjalani perjuangan ini sendirian,” ungkap Founder Bocah Indonesia, dr. Pandji Sadar, MBBS AMPH.