- Kemampuan masyarakat dalam menjaga kesehatan secara mandiri atau self-care semakin mendapat perhatian di kawasan Asia Pasifik.
- Ketua APSMI Rachmadi Joesoef menyatakan bahwa edukasi yang tepat membantu masyarakat membuat keputusan kesehatan yang bertanggung jawab serta menghemat waktu dan biaya.
- Kepala BPOM Taruna Ikrar menekankan perlunya regulasi dan pengawasan ketat terhadap keamanan produk serta ketersediaan informasi obat yang akurat bagi masyarakat.
Jika digabungkan dengan inisiatif yang dilaporkan pada 2025, jumlahnya mencapai lebih dari 140 program. Seluruhnya sejalan dengan agenda Bangkok Joint Initiative yang disepakati pada 2024.
Co-Chair Self-CARER sekaligus Direktur Office of International Regulatory Affairs, Pharmaceutical Safety Bureau, Kementerian Kesehatan Jepang, Takayuki Okubo, mengatakan kolaborasi antarnegara diperlukan agar berbagai diskusi dan pertukaran pengalaman bisa menghasilkan perubahan nyata.
“Platform Self-CARER menyatukan regulator, pakar kesehatan, dan industri self-medication di Asia Pasifik. Tiga hari pertemuan ini menunjukkan pentingnya kerja sama regional melalui pertukaran pengalaman, tantangan, dan praktik terbaik di bidang regulasi,” kata Okubo.
Pentingnya self-care bagi masyarakat juga disoroti Manjulaa Narasimhan, ilmuwan sekaligus pemimpin bidang Self-Care di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut dia, pilihan perawatan mandiri yang berbasis bukti dapat melengkapi layanan kesehatan di fasilitas medis.
Pilihan tersebut juga dinilai membantu meningkatkan literasi kesehatan, memperluas akses, dan mengurangi kesenjangan layanan kesehatan di berbagai kelompok masyarakat.
Dengan demikian, self-care bukan berarti masyarakat harus menangani seluruh masalah kesehatannya sendiri. Ketersediaan informasi yang benar, produk yang aman, serta akses terhadap tenaga kesehatan tetap menjadi bagian penting agar perawatan mandiri dilakukan secara tepat.