Indotnesia - Perceraian tentu bukanlah keinginan pasangan yang memutuskan untuk menikah. Namun, ada berbagai alasan yang membuat suami-istri akhirnya memilih bercerai.
Meski demikian, perceraian akan mempengaruhi kondisi psikologi masing-masing, bahkan termasuk anak-anak. Jika memang bercerai adalah keputusan yang terbaik, Anda tetap harus waspada terhadap dampaknya kepada anak.
Cobalah untuk memperhatikan anak-anak dan kondisi emosional mereka. Berikut sejumlah dampak negatif perceraian terhadap psikologis anak, seperti dikutip dari Healthline:
1. Amarah
Ketika Anda telah berpisah dengan pasangan, anak tentu akan merasa marah. Baginya, seluruh dunianya telah berubah.
Rasa marah ini bisa terjadi pada anak-anak usia berapapun, namun umumnya pada anak usia sekolah dan remaja. Emosi ini meningkat dari perasaan kehilangan kendali dan pengabaian.
Tak jarang, buah hati Anda menyalahkan diri mereka sendiri atas perceraian yang terjadi.
2. Menarik diri
Setelah perpisahan orangtuanya, anak akan mulai tidak tertarik dan bahkan takut untuk bersosialisasi. Mereka juga gamang untuk sekadar pergi bermain dengan teman atau belajar di sekolah.
Rasa enggan bersekolah tentu akan mempengaruhi prestasi akademik mereka. Jika anak Anda menarik diri dari lingkungan, cobalah berbicara dari hati ke hari untuk membangkitkan semangat mereka.
Citra diri yang rendah dikaitkan dengan perceraian dan penarikan sosial, jadi meningkatkan kepercayaan diri anak Anda dan dialog batin dapat membantu mereka keluar dari cangkangnya lagi.
3. Kecemasan
Anak yang lebih kecil kemungkinan akan menunjukkan kecemasan akan perpisahan, seperti menangis dan kemelekatan. Ini juga terjadi pada buah hati Anda yang berusia 6-9 bulan dan akan berangsur menghilang pada usia 18 bulan.
Sementara pada balita dan anak-anak, rasa kecemasan tersebut juga akan muncul sehingga menimbulkan pertanyaan kenapa ayah atau ibunya tidak ada di rumah yang sama.
4. Konflik Loyalitas