Indotnesia - Seorang pria tak dikenal menembak Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Jumat (8/7/2022) saat berpidato dalam acara kampanye menjelang pemilihan Majelis Tinggi di kota Nara, Jepang.
Dilansir dari The New York Times, kondisi Shinzo Abe pingsan dan tak sadarkan diri sesaat setelah tembakan kedua dari belakang yang mengenai bagian sekitar dada atau lehernya.
Kepada media publik Jepang NHK, seorang saksi menceritakan bagaimana seorang pria mendekati Abe dari belakang sebelum melangsungkan dua tembakan.
"Dia memberikan pidato dan seorang pria datang dari belakang," kata seorang wanita muda di tempat kejadian, dikutip dari The Associated Press.
“Tembakan pertama terdengar seperti mainan. Dia tidak jatuh dan ada ledakan besar. Tembakan kedua lebih terlihat, Anda bisa melihat percikan dan asap, ”lanjutnya.
Berdasarkan laporan The Associated Press, pascakejadian penembakan mantan PM Jepang tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit, tetapi ia dikabarkan tidak bernafas dan mengalami henti jantung.
Kejadian teror yang terjadi di Jepang itu lantas membuat polisi bergerak cepat mencari pelaku penembakan.
Kepala Sekretariat Kabinet Hirokazu Matsuno mengatakan polisi langsung menangkap tersangka pria bersenjata di tempat kejadian.
“Tindakan biadab seperti ini benar-benar tidak dapat dimaafkan, apapun alasannya, dan kami mengutuknya dengan keras,” ungkap Matsuno kepada wartawan pada Jumat (8/7/2022), dikutip dari The Associated Press.
Baca Juga: Resmi Cabut Izin Pesantren di Jombang, Kemenag Jamin Santri Tetap Bersekolah
Media publik Jepang NHK menyebut tersangka penembakan adalah Tetsuya Yamagami (41 tahun), polisi menemukan pistol yang terlihat seperti buatan sendiri dan ia langsung ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Serangan yang mengakibatkan mantan perdana menteri terlama di Jepang itu mengejutkan banyak pihak.
Pasalnya, Negeri Matahari Terbit tersebut dikenal sebagai salah satu negara teraman di dunia dengan sejumlah aturan penggunaan senjata paling ketat.
Diketahui, Shinzo Abe merupakan perdana menteri terlama yang menjabat sebanyak dua periode, yaitu pada 2006 hingga 2007 dan 2012 hingga 2020.
Ia mengundurkan diri pada 2020 karena masalah kesehatan kronis, yaitu menderita kolitis ulserativa yang dideritanya sejak remaja.
Saat memutuskan untuk mengundurkan diri, Shinzo Abe juga sempat mengucapkan kekecewaannya kepada wartawan lantaran harus meninggalkan banyak tujuan yang belum diselesaikannya.
Mantan Perdana Menteri Jepang itu berbicara tentang kegagalannya karena belum menyelesaikan sejumlah masalah, yaitu penculikan warga Jepang pada 2021 oleh Korea Utara, revisi konstitusi Jepang yang menolak perang, dan sengketa wilayah dengan Rusia.