Terlilit Utang Ribuan Pound pada Penyalur Kerja, WNI di Inggris Berisiko Kerja Paksa

Indotnesia

Rabu, 17 Agustus 2022 | 17:32 WIB
Terlilit Utang Ribuan Pound pada Penyalur Kerja, WNI di Inggris Berisiko Kerja Paksa
Ilustrasi pekerja yang bekerja di kebun stroberi. (Freepik/ serhii_bobyk)

Indotnesia - Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Inggris sebagai pemetik buah memiliki hutang puluhan juta rupiah kepada para broker atau penyalur kerja. Mereka bahkan terancam kerja paksa di negara orang.

Melansir dari penelusuran The Guardian pada (15/8/2022), para pemetik buah itu bekerja di House Clock Farm, di Kent, Inggris. Pertanian tersebut memasok ke beberapa toko seperti Marks & Spencer, Waitrose, Sainsbury's dan Tesco.

Dari pengakuan salah satu WNI kepada tim The Guardian, para pekerja terlilit utang hingga  5.000 poundsterling atau setara Rp89,1 juta kepada penyalur pekerjaan itu.

Kronologi awal 

Dari penelusuran tersebut juga diketahui, awalnya para pekerja mendapat kontrak tanpa jam dengan bayaran kurang dari 300 pound atau Rp5,1 juta per minggu. Jumlah tersebut didapatkan setelah adanya pengurangan dari biaya penggunaan fasilitas.

Di sisi lain, mereka juga harus membayar ribuan pound kepada broker di Indonesia yang menyalurkan mereka pekerjaan, termasuk penerbangan dan visa. Padahal, menurut Undang-undang tersebut hal itu bersifat ilegal.

Seorang WNI juga bercerita tentang kerja kerasnya untuk membayar hutang tersebut hingga mempertaruhkan rumah keluarganya.

“Saya kadang tidak bisa tidur. Saya memiliki keluarga yang membutuhkan dukungan saya untuk makan dan sementara itu, saya memikirkan utang,” kata salah seorang WNI. 

Pakar hak-hak migran menyebut situasi tersebut menempatkan para WNI pada risiko adanya kerja paksa. Karena mereka terjebak untuk tetap bertahan di pekerjaan tersebut guna membayar hutang mereka.

Menurut mereka kehadiran para WNI di Inggris karena adanya kekurangan tenaga kerja akibat  Brexit dan Perang Ukraina. Karena sebelumnya tenaga kerja musiman kebanyakan diambil dari Ukraina.  

Sementara para pekerja Indonesia yang dikirim ke Kent, Inggris dibawa oleh AG Recruitment. Agen Inggris yang berlisensi untuk mendaftarkan mereka ke House Clock Farm.

Namun, AG menyangkal telah melakukan kesalahan dalam proses recruitment pekerja. Ia sendiri bekerja sama dengan Al Zubara Manpower agen perekrutan di Jakarta. 

Menurut penelusuran yang sama, AG mengatakan bahwa Kementerian Tenaga Kerja Indonesia telah melakukan penyelidikan dan mengkonfirmasi bahwa Al Zubara bertindak secara hukum.

Dari bukti faktur yang ditemukan oleh The Guardian rata-rata pekerja House Clock Farm berhutang sebanyak 4.400 - 5.000 pound kepada para broker di Bali yang menyalurkan pekerja ke Al Zubara Manpower.

Selain itu, pekerja yang datang tanpa perantara juga harus membayar 2.500 pound atau sebanyak Rp44 juta.

Saat ini, Home Office dan Gangmasters and Labor Abuse Authority (GLAA) sedang menyelidiki tuduhan tersebut. Sementara pihak supermarket Marks & Spencer, Waitrose, Sainsbury's dan Tesco telah meluncurkan penyelidikan mendesak terkait kasus tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Utang Luar Negeri Indonesia Turun Jadi USD 403 Miliar di Kuartal II-2022

Utang Luar Negeri Indonesia Turun Jadi USD 403 Miliar di Kuartal II-2022

Bisnis | Senin, 15 Agustus 2022 | 11:16 WIB

Terkini

WFC Gak Se-Estetik di Medsos! Tantangan Pekerja Remote Menepis Stigma Negatif

WFC Gak Se-Estetik di Medsos! Tantangan Pekerja Remote Menepis Stigma Negatif

Your Say | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:12 WIB

Donald Trump: Tidak Ada Satu Negara Pun Boleh Kendalikan Selat Hormuz

Donald Trump: Tidak Ada Satu Negara Pun Boleh Kendalikan Selat Hormuz

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:11 WIB

7 Zodiak yang Isinya Orang Kaya di ASEAN, Taurus dan Aries Paling Dominan

7 Zodiak yang Isinya Orang Kaya di ASEAN, Taurus dan Aries Paling Dominan

Lifestyle | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:09 WIB

Detik-Detik Rumah Warga Jepara Rusak Usai Dilintasi Sound Horeg Saat Takbiran

Detik-Detik Rumah Warga Jepara Rusak Usai Dilintasi Sound Horeg Saat Takbiran

Entertainment | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:09 WIB

Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Jabar, Binokasih Mulang Salaka Tandai Pembukaan di Sumedang

Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Jabar, Binokasih Mulang Salaka Tandai Pembukaan di Sumedang

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:09 WIB

5 Lipstik Matte Terlaris di Shopee, Transferproof dan Nyaman Dipakai Seharian

5 Lipstik Matte Terlaris di Shopee, Transferproof dan Nyaman Dipakai Seharian

Lifestyle | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:07 WIB

Hobi Checkout Baju Picu Clutter Lifestyle dan Sampah Tekstil Meningkat?

Hobi Checkout Baju Picu Clutter Lifestyle dan Sampah Tekstil Meningkat?

Your Say | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:05 WIB

Hutan Bukan Milik Negara: Mengapa Masyarakat Adat Papua Menolak Skema Perhutanan Sosial?

Hutan Bukan Milik Negara: Mengapa Masyarakat Adat Papua Menolak Skema Perhutanan Sosial?

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:05 WIB

Terdampak Konflik Geopolitik Global, Ratusan Umat Buddha Tetap Gelar Doa Damai di Borobudur

Terdampak Konflik Geopolitik Global, Ratusan Umat Buddha Tetap Gelar Doa Damai di Borobudur

Jawa Tengah | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:04 WIB

Children of Heaven: Angkat Tema Kemiskinan dengan Pendekatan yang Humanis

Children of Heaven: Angkat Tema Kemiskinan dengan Pendekatan yang Humanis

Your Say | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:00 WIB